Rabu, 04 November 2026
Vania Rossa : Rabu, 04 November 2026 | 17:12 WIB

dewiku.com - Punya banyak album, photocard, hingga merchandise idola kesayangan memang bisa menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penggemar K-Pop. Namun, pernahkah terpikir berapa banyak plastik yang ikut menumpuk setiap kali membeli album baru?

Fenomena membeli album dalam jumlah banyak bukan hal asing di kalangan penggemar K-Pop. Selain ingin mengoleksi berbagai versi album, sebagian penggemar juga membeli lebih dari satu keping demi mendapatkan photocard tertentu atau memperbesar peluang mengikuti undian fansign.

Di balik antusiasme tersebut, ada persoalan lingkungan yang mulai mendapat perhatian. Produksi album fisik K-Pop dalam jumlah besar turut meningkatkan penggunaan plastik dan berpotensi menghasilkan sampah dari merchandise yang akhirnya hanya tersimpan di rumah.

Data Circle Chart mencatat penjualan album fisik K-Pop secara global mencapai 119,1 juta keping pada 2023. Sementara itu, data Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan menunjukkan penggunaan plastik untuk produksi album mencapai 801,5 ton pada 2022. Angka tersebut lebih dari 14 kali lipat dibandingkan dengan 2017.

Melihat persoalan ini, sejumlah penggemar mulai mengajak komunitas K-Pop untuk menikmati hobi mengoleksi dengan cara yang lebih bijak. Salah satunya melalui kegiatan pertukaran merchandise agar barang yang sudah tidak digunakan bisa kembali memiliki pemilik.

Tukar Merchandise, Tetap Bisa Menikmati K-Pop Tanpa Menambah Koleksi

Upaya tersebut terlihat dalam acara BersalingSilang yang digelar Lyfe with Less di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Dalam kegiatan ini, KPOP4PLANET, platform aksi iklim global untuk penggemar K-Pop, membuka stan pertukaran merchandise. Album, photocard, lightstick, hingga paket season's greetings yang masih layak pakai dapat ditukarkan atau diberikan agar diadopsi penggemar lain.

Selama dua hari, lebih dari 200 orang mengunjungi stan tersebut dan puluhan barang berhasil ditukarkan. Penggemar dari berbagai komunitas, seperti NCTzen, BLINK, EXO-L, dan MIDZY, ikut membawa koleksi mereka.

Alasannya beragam. Ada penggemar yang sudah berhenti mengoleksi dan ingin memberikan barangnya kepada orang lain. Ada pula yang ingin mencari merchandise berbeda tanpa harus menambah tumpukan koleksi di rumah.

Nisaa, penggemar SEVENTEEN, menilai kegiatan tukar merchandise bisa menjadi alternatif bagi penggemar yang ingin tetap menikmati hobi mengoleksi tanpa harus selalu membeli barang baru.

“Di tengah meningkatnya biaya hidup, pertukaran merchandise memberi kita cara baru untuk menikmati kegiatan mengoleksi. Kita bisa menemukan barang yang disukai tanpa harus membeli yang baru, sehingga menghemat uang dan memastikan merchandise yang sudah ada tetap digunakan,” ujarnya.

Bagi penggemar lain, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk bertemu sesama pencinta K-Pop, berbincang tentang idola, hingga menemukan teman baru. Bahkan, beberapa pengunjung berkesempatan mendapatkan album K-Pop pertama mereka dari koleksi penggemar lain.

Fadila, penggemar TWICE, mengatakan bahwa kecintaan terhadap idola dan kepedulian terhadap lingkungan sebenarnya bisa berjalan beriringan.

“Acara ini memberi kita cara lain untuk menikmati merchandise K-Pop tanpa harus selalu membeli barang baru. Ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap K-Pop dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Fadila.

Industri K-Pop Diajak Mengubah Sistem Penjualan Album

Persoalan sampah album K-Pop tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan penggemar. Praktik penjualan di industri hiburan juga menjadi perhatian, terutama sistem photocard acak, banyaknya versi album, serta undian fansign yang dikaitkan dengan jumlah pembelian.

Melalui kampanye Plastic Album Sins, KPOP4PLANET menyerukan perusahaan hiburan untuk mengevaluasi praktik tersebut. Tujuannya agar penggemar tetap bisa mendukung idola tanpa merasa terdorong membeli album dalam jumlah berlebihan.

Sheila, penggemar NCT, menilai antusiasme terhadap comeback idola dan peluncuran merchandise terkadang membuat penggemar luput memperhatikan sampah plastik yang dihasilkan.

“Begitu banyak barang diproduksi dan dibeli hingga sebagian hanya tersimpan tanpa digunakan atau dibuang meski masih dalam kondisi baik. Pertukaran merchandise merupakan cara sederhana untuk memperpanjang masa pakai koleksi dan mengurangi sampah plastik,” ujarnya.

Sejumlah perusahaan hiburan mulai melakukan perubahan, antara lain menggunakan kertas daur ulang, menyederhanakan kemasan, serta menyediakan akses musik melalui kode QR atau NFC.

Juru Kampanye KPOP4PLANET, Fatmadila Safira, menegaskan bahwa penggemar tidak perlu merasa bersalah karena memiliki hobi mengoleksi album dan merchandise.

“Penggemar tidak perlu merasa bersalah karena mengoleksi. Sebaliknya, mari bersama-sama menyuarakan perubahan di industri dan menjadi konsumen yang lebih bijak, yang peduli pada idola sekaligus pada bumi,” katanya.

Pada akhirnya, mendukung idola bukan hanya tentang seberapa banyak album yang dimiliki atau berapa banyak merchandise yang berhasil dikumpulkan. Penggemar juga bisa menunjukkan kecintaan mereka melalui pilihan yang lebih bijak, termasuk menggunakan kembali barang yang masih layak dan mendorong industri K-Pop mengurangi sampah plastik.