Dewiku.com - Belum lama ini, Stephanie Scolaro, seorang selebgram yang juga putri dari konglomerat Fransesco Scolaro ditangkap polisi karena ketahuan melakukan perdagangan barang ilegal, yaitu menjual fashion item kulit ular.
Kejahatan yang dilakukan Stephanie dianggap setara dengan kejahatan lain yang menggunakan satwa liar, seperti memperjual-belikan gading gajah.
Stephanie juga melanggar konvensi internasional yang melarang ekspor, impor dan penjualan barang-barang tersebut serta mengarah ke pelanggaran di Inggris.
Selebgram ini ditangkap ketika beacukai Jerman mencegatnya karena kedapatan membawa 10 baseball cap dan travel bag dalam berbagai ukuran dari kulit ular piton saat perjalanan udara dari Indonesia ke Inggris.
Stephanie Scolaro mengaku jika dirinya memang benar melakukan perdagangan ilegal yang melibatkan fashion item tersebut.
Menurut pengakuannya, ia mendapatkan barang-barang fashion itu dari Indonesia dan kemudian menjualnya di situs jual beli SS Python dan outlet mode lainnya. Akibat perbuatannya, sosialita tajir ini dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun.
Selama ini, Stephanie dikenal sebagai selebgram dengan jumlah pengikut hingga lebih dari 80 ribu followers. Dengan popularitasnya sebagai selebgram, kehadiran Stephanie tentu sangat mempengaruhi dunia mode di kalangan anak muda.
Hal inilah yang membuat keterlibatannya dianggap sangat berpengaruh dalam perdagangan ilegal ini.
Tag
Terkini
- Mindful Beauty: Menemukan Aroma yang Cocok untuk Ritme Hidup Urban
- Benarkah Manifesting Bisa Mengurangi Overthinking?
- Merawat Harapan Lewat Pelangi di Mars
- Masak Tetap Gurih Meski Garam Dikurangi? Ini Rahasia Pintar Para Moms!
- 10 Ide Menu Sahur Praktis: Rasanya Enaknya, Bikinnya Tanpa Ribet
- 5 Smartwatch Terbaik yang Stylish dan Ramah di Kantong!
- Anti Ribet, Ini Solusi Mempersiapkan Buka Puasa dan Sahur yang Sat Set
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?