Dewiku.com - Banyak orang sudah sadar bahwa industri mode menjadi salah satu penyumbang limbah produksi terbesar di dunia. Itulah mengapa semakin banyak pegiat fashion yang beralih ke slow fashion sebagai upaya bersama merespons krisis lingkungan.
Gaya hidup slow fashion merupakan gerakan di mana konsumen meletakan perhatian lebih pada bagaimana produk mode yang mereka beli diproduksi hingga dipasarkan, mulai dari pemilihan material hingga bagaimana jalannya proses produksi.
Gerakan ini mencuri perhatian publik saat Kate Fletcher menerbitkan artikelnya di The Ecologist pada tahun 2007. Artikel tersebut mendorong konsumen, desainer, merek, dan pengecer mengambil peran tanggung jawab lebih besar terhadap lingkungan dengan produksi koleksi fashion yang lebih berkualitas untuk penggunaan lebih lama dan berkelanjutan.
Slow fashion bisa memberikan banyak manfaat. Salah satu dalam faktor yang diperhatikan adalah material atau bahan produk fashion yang ramah lingkungan. Selama proses produksi, material yang memiliki nilai keberlanjutan juga tidak boros akan penggunaan air serta minim limbah dan jejak karbon.
Lenzing Group, produsen serat khusus berbasis kayu terkemuka di dunia menjadi salah satu pelopor yang teguh terhadap nilai keberlanjutan. Serat Lenzing yang ramah lingkungan, seperti TENCEL dan LENZING ECOVERO, merupakan pilihan ideal bagi pelaku dan penikmat fashion yang ingin menerapkan gaya hidup slow fashion.
Produk serat yang ramah lingkungan bukan berarti rendah kualitas. Menggunakan kayu terkemuka dari hutan bersertifikasi seluruh serat Lenzing diproduksi secara bertanggung jawab guna terwujudnya ekosistem industri fashion yang berkelanjutan.
"Slow fashion tidak hanya gerakan berbusana sesaat, namun menjadi sebuah komitmen untuk membawa industri fashion yang lebih maju dan berkelanjutan," ujar Margret Marito, Marketing & Branding Manager, Textile SEA & Oceania, Lenzing Group, Selasa (12/12/2023), dikutip dari siaran pers.
Dia juga memaparkan, "Inovasi-inovasi keberlanjutan dari Lenzing mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli akan produk fashion yang dibeli. Di masa yang di mana tren busana berganti dengan cepat, kami percaya bahwa masih besarnya kesempatan membawa kesadaran lingkungan pada industri fashion ini."
"Di gelaran Jakarta Fashion Week 2024 silam, kami baru melansir koleksi terbaru kami yang terbuat dari serat TENCEL yang mencerminkan komitmen Bluesville dalam menyelaraskan alam, tradisi, dan gaya kontemporer," ungkap Direz, owner dari Bluesville.
Baca Juga
-
Tak Hanya Adiba Khanza, Ivan Gunawan Merancang Gaun Pernikahan untuk 5 Artis Ini
-
Gemas Overload! Gaya La Lembah Manah Anak Selvi Ananda Pakai Sepatu Branded
-
Urutan Makeup Paling Simpel, Dapatkan Tampilan Natural dan Memesona
-
Urutan Pemakaian Skincare yang Benar, Kunci Wajah Sehat dan Glowing
-
5 Tips Diet untuk Pemula, Begini Cara Sehat Menurunkan Berat Badan
Bluesville menyatukan nilai-nilai tradisional ke dalam interpretasi modern. Lini busana ini menggunakan teknik pewarnaan biru dari Indigofera Tinctoria, satu-satunya tanaman yang dapat menghasilkan warna biru secara alami.
Terkini
- Bermula dari Dapur: Mengurai Benang Kusut Masalah Sampah Nasional dari Rumah
- Tren Kecantikan 2026: Dari Biotech Beauty hingga Skincare Berbasis Sains Kian Digemari
- Perempuan Makin Dominan di Panggung Global, Rising Girls dan Plataran Menteng Dorong Kepemimpinan Berbasis Impact
- Manfaatkan Liburan Singkat, Saatnya Kunjungi Transera Waterpark!
- Jangan Salah Warna! Kenali 3 Jenis Taksi Hong Kong Berdasarkan Rute Tujuan yang Dicari
- Gym + Main Bareng Kucing, Cara Unik Turunkan Stres Usai Olahraga
- Body Care Pertama di Indonesia dengan Bahan Baku Kemangi, Inovasi Baru untuk Kulit Sensitif
- 100 Momfluencer Kumpul di Ramadan, Dari Ngonten Bareng hingga Belajar Finansial
- Pelangi di Mars, Film Sci-Fi Anak Indonesia yang Siap Ramaikan Lebaran 2026
- Glam Meet Up Elzatta: Koleksi Sarimbit Baru Terinspirasi Perempuan Tangguh