Dewiku.com - Depresi pasca melahirkan rentan menghampiri para ibu muda yang baru saja memiliki momongan. Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya sindrom ini, diantaranya adalah kelelahan dan faktor hormonal. Untuk ibu muda seperti Kahiyang Ayu, ada beberapa jenis depresi pasca melahirkan yang harus diwaspadai. Simak dalam tulisan di bawah ini.
Baby blues syndrome adalah depresi yang paling ringan dan paling sering dialami oleh ibu muda. Perubahan mood yang tiba-tiba bisa menjadi gejala paling awal saat mengalami baby blues syndrome. Salah satu cara mengatasi baby blues syndrome adalah kerja sama dan pengertian dari suami.
Postpartum Depression
Gejalanya serupa baby blues syndrome, tapi hal ini berlangsung bukan hanya untuk kelahiran anak pertama, tapi juga anak kedua dan seterusnya. Untuk meredakan depresi ini, ibu yang baru melahirkan bisa melakukan konseling dengan orang yang ahli di bidang ini. Sekali lagi, suami sangat berperan penting menjaga kestabilan emosi agar ibu terhindar dari depresi pasca melahirkan.
Psikosis Postpartum
Depresi ini cukup berat dan termasuk penyakit kejiwaan yang bisa diderita ibu yang baru melahirkan. Gejala psikosis postpartum meliputi gangguan pikiran, delusi, halusinasi, serta respons yang tidak pantas atau tidak tertarik pada anak mereka. Tidak semua ibu berpotensi mengalami depresi pasca melahirkan jenis ini. Hanya 1 sampai 2 orang dari 1000 ibu muda yang mengalami ini.
Terkini
- Mindful Beauty: Menemukan Aroma yang Cocok untuk Ritme Hidup Urban
- Benarkah Manifesting Bisa Mengurangi Overthinking?
- Merawat Harapan Lewat Pelangi di Mars
- Masak Tetap Gurih Meski Garam Dikurangi? Ini Rahasia Pintar Para Moms!
- 10 Ide Menu Sahur Praktis: Rasanya Enaknya, Bikinnya Tanpa Ribet
- 5 Smartwatch Terbaik yang Stylish dan Ramah di Kantong!
- Anti Ribet, Ini Solusi Mempersiapkan Buka Puasa dan Sahur yang Sat Set
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?