Dewiku.com - Adakah di antara kamu yang merasa setuju jika perempuan gaptek lebih banyak jumlah dibanding laki-laki? Kamu bisa jadi malah menganggap wajar jika perempuan lebih gaptek ketimbang laki-laki. Kenapa, ya?
''Duh, gaptek, nih. Kamu kan laki-laki, pasti lebih paham.''
Kalimat barusan mungkin sudah sekian juta kali kamu dengar. Namun, sadarkah jika itu mengandung stereotip negatif bagi perempuan?
Banyak perempuan menganggap kegagapan teknologi adalah hal yang bisa dimaklumi karena jenis kelamin mereka. Padahal, sebenarnya bisa jadi mereka sama sekali tidak gaptek. Menggunakan smartphone dan menghabiskan waktu yang cukup lama dalam satu hari saja sudah membuktikan bahwa penggunanya sama sekali tidak gaptek. Iya, kan?
Apakah semua laki-laki fasih dengan teknologi? Tentu saja tidak. Hanya saja, dengan stereotip yang sama, membuat para laki-laki menahan diri untuk tidak mengutarakannya.
Predikat perempuan gaptek bahkan terbawa hingga saat menjadi orangtua. Misalnya saja saat seorang anak ingin bertanya atau membuka obrolan soal game bersama sang ibu, dia malah malah mendapat jawaban, ''Duh, ibu nggak ngerti. Sana kamu ngomong sama ayah.''
Pintu komunikasi antara Ibu dan anak menjadi tertutup. Padahal isi pembicaraan bisa saja dialihkan menjadi soal kegiatan bermainnya atau keunikan karakter game, bukan melulu soal teknis game. Akhirnya, si anak langsung menganggap si ibu tidak dapat menjadi lawan bicara yang tepat dan secara tidak langsung menggiringnya untuk percaya soal stereotip perempuan gaptek.
Identifikasi gender di industri digital
Dikutip dari rilis Think.Web, salah satu permasalahan terbesar dalam perjuangan kesetaraan gender adalah dunia digital lebih sering diidentikkan dengan laki-laki. Anggapan itu kemudian semakin menjauhkan kesetaraan perempuan dalam dunia digital.
Jika seorang perempuan mempunyai peran besar dalam sebuah keluarga yang sama besarnya dengan peran besar laki-laki, maka sebenarnya perempuan juga bisa punya peran yang sama dengan para laki-laki dalam industri digital.
Baca Juga
Padahal, adanya identifikasi gender di antara minimnya talenta, akan semakin memperluas lubang pada industri digital Indonesia. Potensi ekonomi digital yang digadang-gadang pemerintah bisa jadi malah menjadi rapuh dan kalah bersaing dengan negara lainnya.
Pembatasan akibat identifikasi gender juga dapat membawa dampak negatif untuk respon inovasi yang bisa banyak dipengaruhi oleh perempuan melalui perannya dalam masyarakat. Namun kembali lagi, apabila perempuan sendiri yang memberikan batas pemakluman akan kegagapan teknologi, maka bukan salah masyarakat apabila kesetaraan berkarya dalam industri digital menjadi tidak maksimal di Indonesia.
Cita-cita anak sekarang yang ingin menjadi YouTuber, kreator konten, gamer profesional, atau hal lainnya di dalam industri digital seharusnya semakin terbuka dan menjadi topik yang menarik didiskusikan bersama ayah dan ibunya. Itu bukan hanya untuk anak laki-laki, melainkan juga perempuan.
Namun apabila komunikasi tidak terbuka hanya karena alasan gaptek atau menjadi skeptis karena industrinya dirasa berbahaya untuk perempuan, karier di dunia digital bukan tidak mungkin akan terus diidentikkan dengan laki-laki. Apalagi jika tidak ada dorongan dari orang tua untuk anaknya, terutama anak perempuannya, untuk bekerja di industri digital di kemudian hari.
Bagaimana menurutmu? Apakah akan terus memaklumi stereotip perempuan gaptek adalah hal wajar?
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?