Senin, 26 September 2022
Rima Sekarani Imamun Nissa : Sabtu, 26 Juni 2021 | 18:00 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Dewiku.com - Berselancar di media sosial, mulai dari Instagram, TikTok, Twitter dan aplikasi lain, memang sering kali bikin keterusan. Padahal, kebanyakan scrolling media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental Anda. 

Melansir dari Bustle,  Bloomberg melaporkan pada Maret 2020 bahwa baik Twitter dan Facebook mengalami lonjakan penggunaan besar sejak pandemi dimulai, Facebook sendiri melaporkan kenaikan 70 persen pada platform WhatsApp dan Instagram. Hampir setengah dari pengguna merupakan orang berusia 24 hingga 39 tahun yang menanggapi survei pada April 2020. 

Pada tingkat dasar, media sosial mengaktifkan beberapa area otak sekaligus. Dokter Clifford Segil, D.O., seorang ahli saraf di Pusat Kesehatan Providence Saint John mengatakan bahwa media sosial cenderung menerangi area pemrosesan visual otak ketika Anda menafsirkan apa yang Anda lihat dan jalur pendengaran untuk memilah suara atau musik. 

"Ini mengaktifkan daerah otak yang serupa dengan yang digunakan ketika memfokuskan perhatian Anda pada aktivitas kognitif seperti membaca atau bermain video game," ungkap Segil.

"Itulah sebabnya Anda dapat berakhir scrolling selama berjam-jam," katanya kemudian.

Ilustrasi bermain media sosial (Pexels/Andrea Piacquadio)

Berada di media sosial dalam waktu lama juga bisa memengaruhi cara otak Anda mengatur emosi. 

"Banyak orang (mengalami) kesedihan, kecemasan, kesedihan, frustrasi, dan kebosanan selama karantina atau upaya jarak sosial mereka," tutur Dr Sanam Hafeez Psy.D., seorang neuropsikolog kepada Bustle

Di sisi lain, media sosial juga bisa membantu otak melewati berbagai kesedihan dan kecemasan. Ketika terlibat dengan unggahan yang membuat Anda merasa baik, terutama jika Anda terlibat dengan seseorang yang Anda kenal secara langsung, otak mungkin bereaksi dengan memberi dorongan ke arah positif.
 
"Kegembiraan bertepatan dengan pelepasan dopamin dan serotonin dalam tubuh," ujar Hafeez. Neurotransmitter ini memiliki kaitan dengan peningkatan suasana hati.

Meski begitu, kelamaan scrolling di media sosial juga bisa berdampak buruk. Segil mengatakan, media sosial cenderung memicu sistem limbik yang berhubungan dengan respons emosional baik atau buruk. Media sosial mungkin memberikan lebih banyak pukulan emosional saat Anda tak melihat orang-orang dalam dunia nyata.  (*Fita Nofiana)

BACA SELANJUTNYA

Soal Prahara Split Bill yang Mendadak Viral, Begini Kata Psikolog