lifestyle

Tanda Anak Alami Kekerasan Seksual yang Bisa Orangtua Kenali

Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia mengungkap gejala apa saja yang biasanya ditunjukkan anak yang jadi korban kekerasan seksual.

Ririn Indriani
Kamis, 09 Februari 2023 | 20:07 WIB

Tidak semua anak berani mengungkapkan kekerasan seksual yang dialami sehingga orangtua harus bisa mengenali tandanya bila buah hati mengalami kejadian itu.

Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Eva Devita, SpA(K) menyebutkan tanda pertama bila anak mengalami kekerasan seksual, yakni perubahan perilaku misalnya anak cemas, depresi, anak yang tadinya ceria menjadi pendiam, takut bertemu orang asing, bahkan mungkin menghindari pelaku.

Selain itu, sambungnya, anak juga cenderung menarik diri. Pada anak usia remaja, kadang-kadang bisa menunjukkan perilaku percobaan bunuh diri, performa di sekolah menurun dan berkurangnya konsentrasi.

Baca Juga: Berita Duka, Pendiri Mustika Ratu Mooryati Soedibyo Meninggal Dunia

Tanda lainnya yang patut orangtua waspadai, kata Eva, munculnya keluhan-keluhan tidak jelas dari anak seperti menolak untuk pergi ke sekolah, sakit perut, sakit kepala dan sebagainya.

Menurut Eva, anak juga bisa mengalami gangguan makan dan tidur seperti tidak nafsu makan, tidak mau makan, memuntahkan makanan yang sudah dimakan (bulimia), mimpi buruk dan sulit tidur.

"Ada keluhan buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) seperti suka kecipirit, mengeluh nyeri saat BAK dan BAB, ada gatal, cairan atau kotoran yang keluar dari vagina, serta ada luka di kemaluan atau anus," bebernya lagi dilansir Antara, Kamis (9/2/2023).

Baca Juga: Apa Itu Social Butterfly? Biasanya Gampang Punya Teman Baru

Penelitian menunjukkan, anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisa mengalami depresi, rasa bersalah pada diri sendiri, kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain dan suka berganti pasangan di usia remaja.

Mereka juga empat kali lebih mungkin mengalami perilaku atau upaya bunuh diri, empat kali lebih besar melakukan hubungan seksual sebelum usia 15 tahun, serta 4,5 kali lebih mungkin mengalami depresi.

"Dampaknya saat anak mengalami kejadian tetapi juga ke depannya anak alami permasalahan," kata Eva.

Dampak ini, sambung dia, tergantung juga pada sejumlah faktor antara lain usia anak saat mengalami kekerasan, frekuensi dia mengalami kekerasan dan derajat beratnya kekerasan yang dialami.

Selain itu, hubungan anak dengan pelaku juga berpengaruh sehingga apabila pelaku ini orang terdekatnya, maka bisa meningkatkan rasa cemas dan memengaruhi kepribadian serta kondisi sosial dan emosional anak.

Baca Juga: Sukses Diet, Aaliyah Massaid Akui Pernah Jalani Pola Makan Ekstrem

"Memang ada faktor protektif seperti dukungan keluarga dan teman sebaya yang bisa mengurangi dampak-dampak itu," kata Eva.

lifestyle

Sukses Diet, Aaliyah Massaid Akui Pernah Jalani Pola Makan Ekstrem

Namun, Aaliyah Massaid akhirnya menemukan cara yang lebih aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

lifestyle

Hobi Naik Gunung? Pendaki Perempuan Harus Perhatikan Ini

Pendaki perempuan harus lebih teliti dalam menjaga kesehatan organ intim selama naik gunung.

lifestyle

Biar Lebih Awet, Begini Cara Merawat Baju Eco Print

Supaya warnanya tidak cepat pudar, bagaimana cara merawat baju eco print?

lifestyle

Manfaat Minum Susu Oat, Naura Ayu: Bikin Lebih Semangat!

Minum susu oat bisa membuat lebih semangat menjalani hari-hari.

lifestyle

5 Zodiak Paling Bergairah, Nafsunya Selalu Menggebu-gebu

Zodiak apa yang disebut-sebut memiliki gairah paling tinggi?

lifestyle

Titi Kamal Liburan di Gili Meno Bareng Keluarga, Beda dengan Gili Trawangan?

Menikmati libur Lebaran, keluarga Titi Kamal piknik ke Pulau Gili Meno, NTB.