Dewiku.com - Katanya rumah adalah tempat paling aman, tempat pulang, tempat diterima apa adanya. Nyatanya? Banyak perempuan mengalami body shaming dan merasa nggak nyaman soal tubuh sendiri... di rumahnya sendiri.
Mulai dari dibilang “gendutan ya sekarang” pas Lebaran, sampai “kok kurusan? Sakit ya?” tiap ketemu tante atau om.
Rasanya serba salah — mau makan takut disindir rakus, diet dikit dibilang sok nggak bersyukur.
Body shaming dari orang terdekat memang bentuk perhatian yang... bikin hati capek. Sampai kapan, sih, standar ganda ini dibiarkan terus terjadi?
Body Policing dari Keluarga Sendiri
Kalimat-kalimat yang mungkin terdengar ringan bagi si pengucap ini sebenarnya adalah bentuk dari body policing, yakni tindakan mengomentari, menilai, bahkan “mengontrol” tubuh orang lain — mulai dari ukuran, bentuk, warna kulit, sampai cara berpakaian.
Ironisnya, body policing yang paling menyakitkan justru sering datang dari lingkungan terdekat: keluarga sendiri.
Dalam banyak kasus, komentar tentang tubuh ini disampaikan dengan niat “baik”. Orang tua atau saudara mungkin merasa sedang menunjukkan perhatian, memberi masukan, atau bahkan memotivasi.
Padahal, efeknya tak sesederhana itu. Seperti dijelaskan oleh psikolog klinis Anastasia Satriyo, M.Psi, komentar negatif soal tubuh — apalagi yang datang dari keluarga — bisa sangat memengaruhi harga diri perempuan, terutama di masa remaja saat identitas diri sedang dibangun.
Baca Juga
-
Perempuan, Body Image, dan Standar Cantik: Sampai Kapan Mau Terus Dikejar?
-
Pink Flag dalam Hubungan: Nggak Beracun, tapi Bikin Hati Harus Waspada
-
Tips Berdamai dengan Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial
-
Saatnya Hentikan Stigma: Baju Terbuka Bukan Alasan Untuk Melecehkan Perempuan
-
Menangis Bukan Tanda Perempuan Lemah, Tapi Caranya Melepas Lelah dan Memulihkan Diri
-
Rekomendasi Lagu Hindia Terbaik, Liriknya Cocok Buat yang Lagi Galau
Body policing dari keluarga juga sering dibungkus narasi budaya. Banyak orang tua percaya perempuan harus langsing supaya cepat dapat jodoh, atau harus berpakaian feminin biar “pantas”.
Sosiolog Dr. Nurul Ilmi Idrus menyebut dalam penelitiannya bahwa tubuh perempuan di Indonesia kerap dianggap sebagai representasi moral dan kehormatan keluarga.
“Tubuh perempuan kerap kali dijadikan simbol kontrol sosial dalam masyarakat patriarkal, dan keluarga merupakan agen utama dalam proses itu,” tulisnya dalam jurnal Gender dan Identitas.
Dari larangan potong rambut pendek, disindir soal jerawat, hingga komentar “nggak feminim” karena pilihan baju — semuanya bukan sekadar opini personal. Ini adalah warisan konstruksi sosial yang diam-diam masih dipelihara dari generasi ke generasi.
Yang menyedihkan, luka dari body policing ini sering nggak kelihatan. Ia muncul diam-diam: keengganan bercermin, rasa malu pakai pakaian tertentu, hingga overthinking tiap mau datang ke acara keluarga.
Banyak perempuan dewasa masih menyimpan suara kecil di kepala: “paha gue kegedean”, “perut harus rata”, “kalau pakai dress ini bakal dikomentarin mama”. Suara ini bukan tiba-tiba muncul, tapi hasil dari komentar masa lalu yang terinternalisasi.
Gangguan Citra Tubuh Seumur Hidup
Menurut studi dari National Eating Disorders Association (NEDA), perempuan yang mengalami internalisasi kritik tubuh seperti ini punya risiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan makan, bahkan gangguan citra tubuh seumur hidup.
Meski begitu, bukan berarti perempuan tak bisa melawan. Salah satu langkah awal adalah menetapkan batasan. Sampaikan ketidaknyamanan dengan sopan namun tegas:
“Aku nggak nyaman kalau kita bahas bentuk tubuh.” Atau bisa juga bilang, “Boleh nggak, obrolannya jangan soal berat badan terus?”
Atau, cukup kasih senyum, angkat piring berisi makananmu, dan pindah ruangan. Karena memilih keluar dari percakapan yang menyudutkan juga bentuk self-love yang penting.
Pada akhirnya, penting untuk diingat: tubuh kita bukan milik publik. Bukan bahan gosip di meja makan, bukan objek komentar tante-tante atau om-om, bukan bahan perbandingan keluarga besar.
Tubuh ini adalah rumah — tempat jiwa bernaung. Dan rumah ini layak dihargai, dijaga, dan dicintai, apa pun bentuk dan ukurannya.
Menerima tubuh sendiri memang bukan proses instan. Ada hari-hari di mana kita berhasil mencintai diri apa adanya, ada pula hari-hari saat komentar lama masih terngiang. Tapi perlahan, batas bisa dibuat, suara hati bisa diperkuat, dan standar lama bisa dilawan. Karena perempuan berhak menentukan sendiri bagaimana tubuhnya ingin dirawat, tanpa diatur — bahkan oleh keluarga sekalipun.
(Imelda Rosalina)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?