Dewiku.com - Kalimat "Aku baik-baik saja" mungkin terdengar ringan di telinga. Seolah jadi jawaban standar ketika ditanya kabar, tanpa drama, tanpa beban.
Padahal di balik kalimat singkat ini, sering tersembunyi perasaan lelah, kecewa, marah, atau bahkan luka lama yang belum sembuh.
Bagi banyak perempuan, berkata sejujurnya soal isi hati terasa lebih berat ketimbang memendam dan memasang wajah kuat.
Ada tuntutan sosial tak kasatmata untuk selalu tampil tangguh, terlihat bahagia, dan menjalankan semua peran tanpa keluhan—sebagai anak, istri, ibu, pekerja, sahabat.
Akhirnya, "Aku baik-baik saja" menjadi tameng otomatis yang dipakai demi menghindari penilaian, rasa malu, atau sekadar karena tak ingin repot menjelaskan luka yang orang lain belum tentu mengerti.
Mengakui Kesusahan Diartikan Sebagai Kelemahan
Melansir Psychology Today, perempuan cenderung menyembunyikan tekanan emosional demi mempertahankan citra diri yang kuat dan stabil.
“Perempuan diajarkan untuk bersikap menyenangkan dan menahan emosi. Mengakui kesusahan sering diartikan sebagai kelemahan,” ujar Dr. Ellen Hendriksen, seorang psikolog klinis.
Tekanan ini tidak muncul begitu saja, di mana ia tumbuh dari konstruksi sosial yang rumit dan tertanam sejak dini.
Baca Juga
-
Kerja Sampingan ala Gen Z, Dari Freelance Sampai Jualan Thrift: Beneran Cuan?
-
Terlihat Kuat dan Ceria, Nyatanya Banyak Perempuan Menyimpan Luka yang Tak Terucap
-
Ketika Kamu Jatuh Cinta pada Angan, Bukan Pasangan: Waspada Pacaran Sama Imajinasi!
-
Kecanduan Produktif: Ketika Perempuan Zaman Now Takut Libur, Takut Nggak Berguna
-
Sisterhood: Lebih Tahan Banting dari Mantan, Lebih Setia dari Pacar
-
Belajar dari Sherly Tjoanda: Menjadi Pemimpin yang Lembut Namun Tegas, Tidak Harus Berteriak
Hal ini diperparah dengan budaya media sosial, di mana kehidupan yang dipamerkan di sana sering kali hanya versi terbaik, bukan yang sebenarnya.
Unggahan penuh kebahagiaan, pencapaian, dan kebersamaan kerap menciptakan standar yang tidak realistis, bahkan bagi diri sendiri.
Di balik foto keluarga yang harmonis atau caption penuh semangat, bisa jadi ada kelelahan, kecemasan, dan kesepian yang tak tampak.
Rentan Terhadap Perfeksionisme
Dr. Brené Brown, profesor riset di University of Houston, menegaskan bahwa perfeksionisme bukanlah bentuk dari usaha menjadi yang terbaik.
“Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa jika kita terlihat sempurna, bertindak sempurna, dan hidup sempurna, kita bisa menghindari rasa sakit karena disalahkan, dihakimi, dan dipermalukan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa perempuan lebih rentan terhadap perfeksionisme karena tuntutan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Dampaknya tidak main-main, survei dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan dewasa di Amerika mengalami gejala gangguan kecemasan.
Banyak di antara mereka merasa perlu menyembunyikan stres, karena takut dianggap lemah atau tidak kompeten.
Perempuan juga selalu diajarkan untuk selalu menjadi penjaga emosi, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain di sekitarnya.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, seorang perempuan menangis diam-diam di kamar mandi kantor setelah rapat penuh tekanan, lalu kembali ke mejanya dengan senyum profesional dan seorang ibu yang kelelahan dan hampir runtuh, tetap berkata “semua baik-baik saja” saat ditanya kabarnya.
Namun, hal Ini bukan hanya tentang menjaga wajah, tetapi tentang menanggung beban ekspektasi yang tidak manusiawi.
Lantas, bagaimana kita mulai mengubahnya?
Langkah pertama adalah keberanian untuk jujur terutama kepada diri sendiri, memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu kuat, untuk merasa sedih, kecewa, lelah, dan mengakuinya, adalah bentuk kekuatan sejati.
Mengatakan “aku tidak baik-baik saja” bukanlah kelemahan, melainkan bentuk perlawanan terhadap budaya kesempurnaan palsu.
Dengan menjadi nyata dan membuka ruang untuk ketidaksempurnaan, perempuan bisa membangun kesehatan mental yang lebih sehat dan hubungan yang lebih autentik baik dengan diri sendiri, maupun dengan dunia.
Karena kadang, kekuatan terbesar justru muncul ketika kita berhenti berpura-pura kuat.
(Mauri Pertiwi)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?