Dewiku.com - Di era serba produktif seperti sekarang, istilah "upgrade diri" sering terdengar di mana-mana—dari feed media sosial sampai obrolan grup WhatsApp. Nggak sedikit dari kita yang merasa harus terus berkembang, ikut kelas ini-itu, belajar skill baru, sampai melatih diri jadi versi terbaik setiap hari.
Tapi, pernah nggak sih kamu merasa udah usaha maksimal, tapi tetap merasa kurang? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami yang namanya kelelahan dari tekanan self-improvement yang berlebihan.
Kamu nggak sendiri, lho. Banyak perempuan yang terjebak di pusaran konten pengembangan diri yang justru bikin stres karena terus merasa belum cukup baik.
Konten seperti “jadi versi terbaik dari dirimu” memang bisa memotivasi, tapi kadang juga menyiratkan seolah kamu sekarang belum cukup. Akhirnya, kamu memborbadir diri dengan banyak metode pengembangan diri, tapi justru malah kehilangan arah, dan ujung-ujungnya merasa kosong.
Daripada terus-terusan merasa kurang, yuk mulai coba cara yang lebih sehat. Temukan satu bentuk self-improvement yang paling relevan untukmu dan jalani itu dengan tulus, tanpa beban dan tanpa ekspektasi berlebihan. Habis ini, kita bakal bahas kenapa kamu bisa terjebak di pola ini dan gimana cara mengatasinya biar kamu bisa berkembang tanpa kehilangan diri sendiri.
Kenapa Bisa Terjebak di Konten Self-Improvement?
Pertama-tama, kita harus sadar dulu kenapa konten pengembangan diri bisa terasa sangat menggoda. Jawabannya karena konten-konten itu sering banget nyentil perasaan insecure kita. Apalagi dengan mentalitas “selalu harus lebih”—yang bikin kamu merasa nggak pernah cukup. Alih-alih tenang, kamu jadi merasa harus terus mengejar sesuatu, terus merasa ketinggalan.
Lalu ada juga jebakan perfeksionisme. Banyak pesan “jadi versi terbaik diri kamu” yang tanpa sadar membuatmu berpikir kamu harus sempurna. Padahal, itu malah bikin kamu overthinking, penuh keraguan, dan makin susah puas sama diri sendiri.
Jangan lupa juga, banyak orang jadi terobsesi sama validasi eksternal, kayak pencapaian, angka gaji, atau jabatan. Padahal, semua itu belum tentu bikin kamu benar-benar bahagia. Akhirnya kamu sibuk ngejar pencapaian orang lain di media sosial dan lupa nikmatin hidup kamu sendiri.
Dan yang paling sering terjadi: kamu terlalu sibuk memperbaiki diri sampai lupa istirahat. Konsumsi konten pengembangan diri terus-terusan bisa bikin kamu kelelahan mental. Kamu jadi jarang berhenti untuk sekadar napas, refleksi, atau menikmati hal-hal kecil yang kamu punya sekarang.
Baca Juga
-
Dear Mahameru: Tren Warna 2025 yang Rayakan Harmoni Alam dan Diri
-
Healing Versi Alam: Studi di Jepang Buktikan Peluk Pohon Bisa Redakan Stres
-
Baru Menikah, Al Ghazali dan Alyssa Daguise Udah Beda Pandangan Soal Anak Pertama?
-
Ketika Pilihan Iman Diuji Karier: Deswita Maharani Akui Pernah Alami Job Seret
-
Drakor Kocak Oh My Ghost Clients: Sindir Dunia Kerja yang Sering Bikin Mental Drop!
-
Cocok-Cocokan Zodiak dan MBTI: Mitos atau Fakta Jitu Cari Pasangan?
Terus Gimana Cara Keluarnya?
Tenang, kamu bisa keluar dari siklus ini kok, asal kamu mau pelan-pelan mengenali pola yang kamu jalani. Pertama, kenali siklusnya, apa kamu ngejar self-improvement karena takut tertinggal atau cuma ingin dipuji orang lain?
Setelah itu, ubah tujuanmu. Daripada terus-menerus menambal kekurangan, coba fokus pada self-compassion dan rawat kekuatan yang sudah kamu punya.
Lalu, rangkullah ketidaksempurnaan. Hidup itu bukan perlombaan. Kamu berhak punya momen gagal, istirahat, atau ragu. Jangan lupa rayakan langkah kecil yang berhasil kamu ambil hari ini, sekecil apapun itu.
Yang nggak kalah penting, cari keseimbangan. Lakukan hal-hal yang kamu suka, bukan karena tren atau ekspektasi orang lain. Nonton drakor, masak, main sama kucing, apapun yang bikin kamu rileks, itu sah!
Kalau kamu sudah ngerasa overwhelmed, boleh banget minta bantuan profesional. Nggak ada yang salah dengan ngobrol sama psikolog atau konselor, justru itu bentuk self-care juga.
Dan terakhir, coba deh mulai latihan mindfulness. Luangkan waktu buat sadar sama emosi dan pikiran kamu, tanpa nge-judge. Dengan begitu kamu bisa lebih terhubung sama diri sendiri.
Jadi, Perjalanan jadi versi terbaik dari diri kamu seharusnya bukan soal membenahi semua kekurangan, tapi bagaimana kamu bisa lebih menerima dan menghargai diri apa adanya. Nggak semua harus dikejar sekaligus, dan kamu tetap berharga meski belum mencapai semua targetmu. Ingat, istirahat juga bagian dari kemajuan.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?