Dewiku.com - Gen Z tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat. Dari kecil sudah akrab dengan internet, media sosial, dan segala jenis informasi yang tinggal klik. Nggak heran kalau cara mereka belajar juga jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Kalau dulu belajar identik dengan duduk manis di kelas, baca buku tebal, dan ikut ujian, Gen Z justru lebih nyaman dengan metode belajar yang fleksibel, mandiri, dan sesuai kebutuhan mereka sendiri. Di sinilah lahir tren self-taught culture, atau budaya belajar secara otodidak.
Gen Z terbiasa menggali ilmu dari berbagai sumber digital: nonton video edukatif di YouTube, ikut kelas online di Coursera atau Skillshare, sampai scroll thread bermanfaat di Twitter atau TikTok. Mereka belajar sesuai minat dan ritme sendiri, tanpa harus menunggu kurikulum atau instruksi dari lembaga pendidikan.
Cara ini cocok banget dengan karakter Gen Z yang cenderung mandiri, cepat beradaptasi, dan punya rasa ingin tahu tinggi. Mereka nggak segan coba berbagai cara sampai nemu metode belajar paling pas buat diri sendiri.
Salah satu contoh nyata adalah Jerome Polin. Lewat konten dan obrolannya dengan Gita Savitri, Jerome mengaku banyak kemampuan yang ia kuasai sekarang—dari bikin konten, manajemen keuangan, sampai memimpin tim—semuanya dipelajari secara otodidak.
“Hampir semua hal sekarang bisa dicari. Yang penting adalah kemauan untuk belajar dan mengenal cara belajar yang paling efektif untuk diri sendiri,” ungkapnya.
Dengan makin banyaknya platform pembelajaran seperti YouTube, Coursera, dan bahkan TikTok, proses belajar jadi makin mudah diakses dan inklusif. Gen Z bisa belajar dari pengalaman orang lain secara real-time, bukan cuma teori. Komunitas daring seperti Reddit dan Discord pun jadi tempat diskusi dan saling berbagi ilmu. Di sana, siapa pun bisa jadi guru dan murid sekaligus—semua setara.
Tentu, belajar secara otodidak juga punya tantangan. Perlu disiplin tinggi, kemampuan memilah informasi, dan konsistensi di tengah godaan notifikasi dan hiburan digital. Tapi hal itu justru melatih tanggung jawab dan rasa ingin tahu yang sehat.
Komunitas dan mentor tetap punya peran penting, bukan untuk mengatur, tapi sebagai teman bertukar pikiran dan penunjuk arah. Mereka hadir sebagai support system yang memperkaya proses belajar, bukan membatasinya.
Akhirnya, self-taught culture bukan sekadar tren, tapi bagian dari gaya hidup Gen Z. Mereka membuktikan bahwa belajar bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Di tengah dunia yang serba cepat, Gen Z memilih untuk menjadikan belajar sebagai proses yang personal, dinamis, dan memberdayakan.
Baca Juga
-
JGOB: Fashion Simpel, Nyaman, dan Bertanggung Jawab untuk Bumi
-
Dandan Tapi Nggak ke Mana-Mana: Ternyata Beginilah Sel-Love Ala Cewek Gen Z!
-
Kenalan sama 7 Skin Method ala Korea, Ritual Toner Berlapis yang Bikin Kulit Bening!
-
Kenapa Harus Senyum, Kalau Lagi Nggak Baik-Baik Aja?
-
Glow Up Dimulai dari Tahap Pertama: First Cleanser Naik Tahta di Dunia Skincare
-
Maia Estianty Ungkap Kekuatan Manifesting: Dulu Ngomong Mau Terkenal, Sekarang Jadi Diva!
(Imelda Rosalina)
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian