Dewiku.com - Pernah nggak sih kamu ngobrol sama seseorang, lalu dia nanya sesuatu, tapi setelah kamu jawab, dia malah ikutan menjawab pertanyaannya sendiri? Nah, pola komunikasi kayak gini disebut boomerasking.
Contoh gampangnya gini:
A: “Liburan besok kamu ada rencana ke mana?”
B: “Kayaknya aku di rumah aja deh.”
A: “Oh gitu ya, kalau aku sih mau ke Jogja sama keluarga. Udah lama banget nggak ke sana.”
Dari situ kelihatan, orang A sebenarnya lebih pengen cerita tentang dirinya ketimbang benar-benar mendengar jawaban orang B.
Menurut Psychology Today, peneliti AW Brooks dan M. Yeomans membagi boomerasking jadi tiga kategori:
1. Bertanya dengan niat terselubung
Misalnya pura-pura nanya soal hasil ujian, tapi setelah dijawab, si penanya malah cerita panjang lebar tentang nilainya sendiri. Jadinya terkesan cuma mau pamer.
2. Ingin mengeluh dengan kedok bertanya
Contohnya, “Gimana sih kerja bareng si A?” tapi lalu dijawab sendiri dengan keluhan panjang soal rekan kerja tersebut.
3. Membagikan informasi personal lewat pertanyaan
Baca Juga
-
Orasi Ilmiah Bikin Kontroversi, UI Diserbu Kritik Usai Hadirkan Akademisi Prozionis
-
Daftar Kebijakan Pemerintah di Pertengahan Tahun yang Bikin Rakyat Bertanya-Tanya: Bijaknya di Mana?
-
Ironi Gaya Hidup Sehat: Olahraga Rutin, Diet Ketat, Tapi Malah Mengidap Kondisi Ini
-
Viral! Curhat Polos Cewek ke Psikiater, Ending-nya Sama Sekali Nggak Disangka!
-
Ogah Kehidupan Pribadinya Disorot, Tissa Biani Tegas Lebih Pilih Profesi Ini Daripada Artis
-
Saat Ayah di Swedia Jadi Latte Dad, Indonesia Masih Berjuang Atasi Fatherless
Misalnya, “Kamu punya berapa saudara? Kalau aku sih punya dua kakak perempuan.” Jadi niatnya bukan sekadar bertanya, tapi sekaligus cerita tentang dirinya.
Kenapa Boomerasking Dianggap Buruk?
Riset Brooks dan Yeomans menunjukkan bahwa kebiasaan ini dianggap egois dan nggak tulus. Bahkan, 90 persen responden mengaku pernah melakukannya! Bedanya, orang yang boomerasking dinilai lebih menyebalkan ketimbang mereka yang terang-terangan menyombongkan diri.
Alih-alih bikin percakapan lebih seimbang, boomerasking justru bikin lawan bicara merasa nggak dihargai karena pertanyaan tadi ternyata hanya dipakai untuk kepentingan si penanya.
- Langsung to the point. Kalau mau cerita, ya bilang aja, jangan dibungkus dengan pertanyaan basa-basi.
- Ajukan pertanyaan lain. Fokus pada lawan bicara, bukan pada diri sendiri.
- Tanamkan rasa ingin tahu. Alihkan niat dari sekadar pamer ke tujuan untuk mengenal orang lain lebih dalam.
Memang, banyak orang melakukan boomerasking karena merasa kurang punya ruang untuk berbagi cerita. Tapi ingat, percakapan itu dua arah. Kalau ingin dihargai, belajarlah mendengar dan ajukan pertanyaan yang benar-benar ditujukan untuk lawan bicara, bukan sekadar jalan pintas untuk membicarakan diri sendiri.
(Himayatul Azizah)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?