Dewiku.com - Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi isu serius yang terus menghantui kehidupan masyarakat Indonesia.
Setiap tahun, jumlah kasusnya tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Banyak faktor yang mempengaruhi fenomena ini, namun salah satu penyebab mendasarnya adalah kurangnya pemahaman tentang kesetaraan gender.
Edukasi gender yang minim membuat stereotip, diskriminasi, dan ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan terus terjadi.
Banyak orang masih memegang pola pikir lama bahwa laki-laki adalah sosok dominan, sedangkan perempuan harus tunduk dan patuh.
Pandangan ini menjadi akar dari berbagai bentuk kekerasan, mulai dari verbal, fisik, hingga psikologis.
Tidak sedikit pula anak-anak yang tumbuh dengan konsep bahwa mereka harus diam dan menerima perlakuan tidak adil hanya karena tradisi dan budaya yang bias gender.
Mengapa edukasi gender sejak dini sangat penting? Karena masa anak-anak adalah fase pembentukan karakter dan pola pikir.
Jika sejak kecil mereka diajarkan tentang kesetaraan, maka akan tumbuh generasi yang saling menghargai. Anak laki-laki tidak akan merasa lebih unggul, sementara anak perempuan akan tumbuh percaya diri dan berani menyuarakan pendapat.
Sebaliknya, tanpa edukasi gender, anak laki-laki cenderung menganggap kekerasan sebagai bentuk kekuasaan, dan anak perempuan akan menerima perlakuan tidak adil sebagai sesuatu yang wajar.
Selain keluarga, sekolah dan media memiliki peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai kesetaraan. Kurikulum pendidikan seharusnya memasukkan materi anti-kekerasan, kesetaraan hak, serta cara menghargai perbedaan.
Baca Juga
-
Gen Z Kompak Bilang Lara Raj Katseye Standar Cantik Universal, Emang Apa Alasannya?
-
Bukan Sekadar Nyeri Haid, Supermodel Ini Ungkap Penyakit yang Diam-Diam Bisa Rusak Hidup Perempuan
-
Kim Tae Hee Comeback! Tapi Ngaku Parenting Lebih Menantang dari Dunia Akting
-
6 Gaya Cardigan ala Anggita Kusuma Dewi, Simpel tapi Auto Chic!
-
Tiket Konser Sold Out? Begini Cara Tetap Nonton Super Junior Super Show 10 di CGV
-
Sekali Lahiran Langsung 4, Kisah Ibu Muda di Bangli Jadi Pelajaran Penting Buat Orang Tua Anak Kembar
Orang tua pun harus menjadi teladan, misalnya tidak membedakan pekerjaan rumah hanya berdasarkan jenis kelamin atau mengajarkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.
Minimnya edukasi gender juga berdampak pada keberanian korban untuk melawan. Banyak perempuan dan anak yang memilih diam karena tidak mengetahui hak mereka, atau takut karena tekanan sosial.
Oleh karena itu, edukasi tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga orang dewasa agar kesadaran kolektif tercipta.
Dengan edukasi gender yang benar dan merata, rantai kekerasan bisa diputus. Kesetaraan bukan sekadar jargon, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sudah saatnya kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan adil bagi perempuan dan anak, dimulai dari edukasi sejak dini.
(Clarencia Gita Jelita Nazara)
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian