Dewiku.com - Belum lama ini, penyanyi internasional asal Indonesia, Agnez Mo, ikut buka suara terkait aksi demo masyarakat terhadap anggota DPR RI. Melalui unggahan Instagram Story pada Minggu, 31 Agustus 2025, pelantun Tak Ada Logika itu menyinggung soal kemampuan berbicara di depan publik yang menurutnya masih jauh dari harapan. Postingan tersebut kemudian ramai dibagikan ulang oleh para penggemarnya di X.
Dalam pandangannya, Agnez Mo menilai bahwa kemampuan berbicara di depan umum adalah keterampilan mendasar yang seharusnya dimiliki siapa pun, apalagi seorang wakil rakyat. Namun, yang ia lihat justru sebaliknya—pidato atau pernyataan publik sering kali malah memecah belah, merendahkan, hingga menunjukkan kurangnya empati.
“Semuanya berawal dari EQ yang buruk, (cara) berbicara di depan umum yang memecah belah dan merendahkan, serta nol empati,” tulis Agnez Mo dalam bahasa Inggris.
Lebih lanjut, Agnez menekankan pentingnya komunikasi yang membangun solusi, bukan sekadar kepentingan sepihak. Ia menyoroti betapa ironisnya jika masyarakat harus sampai menuntut keterampilan dasar seperti public speaking dari seorang politisi.
“Berbicara yang TIDAK MEMECAH, tetapi benar-benar mencari solusi untuk semua pihak, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Dan fakta bahwa kita bahkan harus menuntut sesuatu yang mendasar seperti keterampilan berbicara di depan umum saja sudah sangat mengejutkan,” lanjutnya.
Seberapa penting sih EQ dan empati bagi politisi? Yuk, kita bahas lebih jauh!
Pentingnya EQ dan Empati bagi Politisi
Kalau dipikir-pikir, jadi politisi itu nggak cuma soal pintar bicara atau paham strategi. Ada satu hal yang nggak kalah penting, yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan empati.
Dua hal ini bikin politisi bisa lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat, membangun hubungan yang sehat, sampai menghadapi tekanan politik tanpa kehilangan arah. Pada akhirnya, EQ dan empati jadi kunci untuk tata kelola yang lebih manusiawi, inklusif, dan produktif.
Baca Juga
-
Keponakan Chika Jessica Jadi Korban Salah Pukul Oknum Polisi, Alami Luka dan Trauma!
-
Mengulik Psikologi Warna Pink, Hijau, dan Biru yang Jadi Tren Foto Profil Medsos
-
Jam Tangan 11 Miliar Sahroni Ditemukan, Netizen Sindir Kinerja Gercep Polisi: Kalau Motor Warga Dicuri Nggak Ketemu
-
Demo Adem Tanpa Ricuh: Momen Aparat dan Pendemo Ngobrol Santai Sambil Linting Rokok
-
Apa Itu Warga Jaga Warga? Solidaritas Lokal di Tengah Riuh Demo
-
Nggak Ikut Demo Bukan Berarti Diam, Yuk Suarakan Keadilan dengan Cara Lain!
Manfaat EQ dan Empati bagi Politisi
- Pemahaman Konstituen
Politisi dengan EQ tinggi biasanya lebih peka terhadap masalah masyarakat. Mereka bisa memahami tantangan nyata yang dihadapi rakyat, lalu merancang kebijakan yang lebih manusiawi dan relevan.
- Hubungan Interpersonal
EQ membantu politisi mengelola emosi diri sendiri sekaligus memahami perasaan orang lain. Ini penting banget untuk membangun kepercayaan, kerja sama, dan kolaborasi dengan tim maupun pihak lain.
- Manajemen Konflik
Dalam dunia politik, konflik nggak bisa dihindari. Dengan EQ, politisi bisa mengenali akar masalah, lalu menyelesaikannya secara objektif dan penuh empati. Hasilnya, solusi yang diambil lebih adil untuk semua pihak.
- Adaptasi dan Ketahanan
Lanskap politik sering berubah-ubah. Politisi yang punya EQ baik biasanya lebih fleksibel, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru, dan tetap kuat menghadapi tekanan.
- Meningkatkan Kepercayaan Publik
Ketika politisi benar-benar mendengar dan memahami warganya, otomatis publik jadi lebih percaya. Empati yang tulus bisa memperbaiki citra institusi publik yang sering kali dianggap jauh dari rakyat.
- Kepemimpinan yang Efektif
EQ dan empati adalah pondasi kepemimpinan yang menginspirasi. Politisi bisa memotivasi tim, menciptakan lingkungan kerja positif, sekaligus menunjukkan rasa welas asih dalam setiap keputusan.
- Produktivitas Lebih Tinggi
Lingkungan yang penuh kepercayaan dan saling memahami akan bikin tim lebih semangat dan produktif. Dari sini, muncul juga ide-ide inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat luas.
EQ dan empati bukan sekadar "nilai tambah", tapi justru fondasi penting untuk menciptakan kepemimpinan yang efektif dan politik yang lebih berpihak pada manusia. Politisi yang bisa menggabungkan kecerdasan otak dan hati, dialah yang mampu menghadirkan perubahan nyata.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?