Dewiku.com - Ketika membicarakan hak perempuan, masih banyak yang melihatnya sekadar tuntutan kesetaraan gender. Padahal, isu ini jauh lebih dalam dan nyata.
Hak perempuan bukanlah soal tambahan atau “kelebihan” yang diberikan, melainkan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dihormati. Tanpa itu, sulit bagi masyarakat untuk tumbuh adil, aman, dan seimbang.
Salah satu bentuk perjuangan hak perempuan paling krusial adalah akses terhadap pendidikan.
Faktanya, masih ada anak perempuan yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi, norma budaya, atau pernikahan dini.
Padahal, pendidikan adalah pintu utama menuju kemandirian dan masa depan yang lebih baik. Perempuan yang berpendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup diri sendiri, keluarga, bahkan lingkungannya.
Sayangnya, kesenjangan pendidikan perempuan masih kerap ditemukan di berbagai daerah.
Dalam dunia kerja, perempuan juga menghadapi tantangan besar. Stereotip bahwa perempuan hanya cocok mengurus rumah tangga atau pekerjaan ringan masih sering menjadi penghalang. Akibatnya, kesempatan mereka untuk menempati posisi strategis sangat terbatas, meskipun kompetensinya tidak kalah dengan laki-laki.
Perjuangan hak perempuan di sini bukan soal ingin mendominasi, melainkan membuka akses setara agar semua orang bisa berkembang sesuai potensinya.
Selain itu, perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi menjadi bagian penting dari hak perempuan. Banyak perempuan yang masih menjadi korban kekerasan fisik, seksual, verbal, hingga digital, tetapi sulit mendapatkan keadilan.
Hambatan muncul dari stigma sosial, rasa takut, hingga sistem hukum yang belum sepenuhnya berpihak. Memperjuangkan hak perempuan berarti memastikan jaminan perlindungan nyata, agar perempuan bisa merasa aman, berdaya, dan memiliki kendali atas hidup serta tubuhnya.
Baca Juga
-
Dream Wedding ala Selena Gomez-Benny Blanco, Bikin Gen Z Kepincut Elegannya
-
Perempuan Perlu Tahu: Beda Cinta, Obsesi, dan Ketergantungan Emosional
-
Geram Ada Burger di MBG, Dokter Tan Shot Yen Dorong Menu Pangan Nusantara
-
Oase Hijau di Utara Thailand: Kenapa Chiang Mai Sempurna untuk Ecotourism
-
Rayakan ELLE 80 Tahun, Dari Paris ke Jakarta: Ada Pop-Up Fashion yang Wajib Dikunjungi
-
Viral di TikTok: Red Nails Theory, Katanya Bikin Cowok Auto Notice!
Hak perempuan juga mencakup ruang untuk bersuara dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Sayangnya, suara perempuan sering terabaikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di tingkat politik.
Padahal, keterlibatan mereka membawa perspektif penting yang memperkaya solusi dan menciptakan kebijakan lebih inklusif. Kehadiran perempuan dalam pengambilan keputusan bukan sekadar simbol, tetapi faktor penting dalam menghadirkan perubahan yang bermanfaat luas.
Pada akhirnya, perjuangan hak perempuan bukan tentang mencari keistimewaan. Ini adalah soal keadilan dan pengakuan bahwa hak untuk belajar, bekerja, hidup aman, bersuara, dan diakui kontribusinya adalah hak dasar yang harus dimiliki semua orang.
Saat perempuan diberdayakan, dampaknya bukan hanya untuk mereka, tetapi juga bagi kemajuan masyarakat dan dunia yang lebih manusiawi.
(Clarencia Gita Jelita Nazara)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?