Jum'at, 08 Mei 2026
Vania Rossa : Kamis, 07 Mei 2026 | 15:34 WIB

Dewiku.com - Masalah sampah masih jadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Tempat pembuangan akhir (TPA) di berbagai daerah makin penuh, sementara kebiasaan memilah sampah dari rumah masih belum dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Padahal, langkah sederhana seperti memisahkan sampah organik dan non-organik ternyata punya dampak besar untuk lingkungan. Sampah yang tercampur dengan sisa makanan atau limbah basah biasanya jadi sulit didaur ulang dan akhirnya hanya menumpuk di TPA.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lebih dari 50 persen timbulan sampah nasional pada 2025 berasal dari rumah tangga. Karena itu, edukasi soal kebiasaan memilah sampah dari rumah kini mulai banyak didorong, termasuk lewat kolaborasi pemerintah dan pihak swasta.

Salah satunya dilakukan PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Unicharm) lewat program “Unicharm Green Action: Ayo Pilah Sampah 3R Bersama!” yang digelar di Kabupaten Karawang pada 29 April 2026.

Program ini menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Karawang serta KSM Sahabat Lingkungan Desa Warung Bambu dengan melibatkan ibu rumah tangga, kader PKK, hingga kader Posyandu.

Lewat kegiatan tersebut, warga diajak memahami pentingnya memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Edukasi juga dilakukan dengan pendekatan sederhana agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain penyuluhan, warga juga mendapat fasilitas tempat sampah “Drop Box EPR” untuk membantu proses pemilahan sampah organik, non-organik, dan plastik.

Masyarakat diajak membangun kebiasaan lewat tiga langkah mudah, mulai dari mengosongkan dan melipat kemasan, menjaga sampah tetap bersih dan kering, lalu membuangnya sesuai kategori.

Penata Kelola Penyehatan Lingkungan Ahli Muda DLHK Kabupaten Karawang, Agus Yuniarto, menilai kebiasaan memilah sampah dari rumah memang jadi langkah penting untuk mengurangi beban lingkungan.

“Kami sangat menyambut baik langkah yang turun langsung ke akar rumput untuk mengedukasi warga. Masalah sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Butuh sinergi kolaboratif antara regulator, pihak swasta, dan masyarakat,” ujar Agus.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mulai memilah sampah dari rumah, semakin besar juga kontribusi terhadap pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA.

Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) atau Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas, yaitu konsep yang mendorong produsen ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah pascakonsumsi.

Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, mengatakan pihaknya ingin mendorong kebiasaan kecil yang bisa memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan.

“Di Unicharm, kami memiliki slogan Ethical Living for SDGs, yang bermakna menerapkan kebaikan kecil di kehidupan sehari-hari demi berkontribusi mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Nishioka.

Ia menambahkan, sejak 2022 pihaknya telah menjalankan berbagai program edukasi serupa dan menjangkau lebih dari 1.000 masyarakat serta pelajar di berbagai daerah di Indonesia.

“Unicharm akan terus bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan lingkungan serta memberikan kontribusi sosial yang berkelanjutan di Indonesia,” tutupnya.
 
 
 

BACA SELANJUTNYA

Sampah Pembalut Penuhi Sungai, Pandawara Group Geram: Masih Banyak Cewek Indonesia yang Jorok?