Kamis, 10 September 2026
Vania Rossa : Kamis, 10 September 2026 | 15:19 WIB

dewiku.com - Perjalanan mendapatkan momongan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bagi Irish Bella, perjuangan tersebut juga diwarnai kegagalan, rasa lelah, hingga ketidakpastian saat menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Irish bercerita bahwa sebelum menjalani IVF, dirinya dan suami telah mencoba program inseminasi sebanyak dua kali. Setelah itu, keduanya melanjutkan program IVF selama kurang lebih satu tahun.

Namun, program tersebut sempat gagal.

“Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa,” ungkap Irish dalam acara The Alhaya Fertility Journey 2026 di Jakarta.

Pengalaman tersebut membuat Irish dan suami kembali mencari pilihan lain untuk melanjutkan program. Salah satu pertimbangan sang suami saat itu adalah keinginan agar program ditangani oleh dokter perempuan, termasuk dalam prosedur dan tindakan medis.

Melalui rekomendasi dan pendampingan TripMedis, keduanya kemudian dipertemukan dengan tim Alhaya Fertility Kuala Lumpur dan Dr. Wan Syahirah Binti Yang Mohsin atau Dr. Sera.

Irish pun kembali mencoba IVF dan menjalani dua siklus di Alhaya.

Pada siklus pertama, tim medis berhasil memperoleh embrio meski jumlahnya belum banyak. Bagi Irish, hasil tersebut sudah menjadi perkembangan dibandingkan pengalaman sebelumnya yang tidak menghasilkan blastokista.

Pada siklus berikutnya, tim medis menerapkan pendekatan yang berbeda dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Menurut Dr. Sera, pasien yang sebelumnya mengalami kesulitan mendapatkan blastokista perlu mendapatkan evaluasi dan strategi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Penyesuaian tersebut dapat mencakup protokol stimulasi, obat, maupun dosis. Dalam proses IVF, Alhaya juga menggunakan sejumlah teknologi laboratorium embriologi, seperti Embryoscope+ Timelapse dan AI Scoring untuk mendukung pemantauan serta penilaian perkembangan embrio.

Ada pula PICSI yang digunakan dalam proses seleksi sperma serta GX-Media untuk mendukung perkembangan embrio dalam lingkungan kultur.

Irish Bella: Saya Tidak Suka Hal-Hal yang Tidak Pasti

Di balik berbagai prosedur medis tersebut, ternyata ada satu hal yang paling dirasakan Irish selama menjalani program bayi tabung: ketidakpastian.

“Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti,” ujarnya.

Program bayi tabung memang bukan perjalanan yang sederhana. Ada berbagai tahapan yang harus dilalui pasangan dan hasil akhirnya pun tidak bisa dipastikan sejak awal.

Karena itu, Irish merasa hubungan dan komunikasi dengan dokter menjadi penting.

“Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita. Dalam program hamil banyak sekali uncertainty, karena itu dukungan sangat penting,” kata Irish.

Irish Bella Cerita Perjuangan IVF. (dok. Alhaya Fertility)

Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis yang menjadi moderator dalam talkshow tersebut, juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan mendapatkan momongan ada banyak hal yang memang tidak dapat dikontrol oleh pasangan.

Dr. Sera pun menegaskan bahwa IVF tidak pernah dapat menjanjikan keberhasilan 100 persen. Menurutnya, dokter dan pasien perlu bekerja sebagai tim untuk menentukan upaya terbaik berdasarkan kondisi masing-masing.

Dalam pengalaman Irish, dukungan tidak hanya datang dari dokter. Keluarga juga menjadi tempatnya mendapatkan kekuatan selama menjalani proses yang panjang tersebut.

Ia menceritakan bagaimana suami dan anaknya turut memberikan dukungan, termasuk ketika Irish harus menjalani suntikan selama program.

“Saya sangat bersyukur. Alhamdulillah, Tuhan mempertemukan saya dengan Dr. Sera, dokter perempuan yang Masya Allah luar biasa, bukan hanya mendampingi secara medis tetapi juga secara emosional. Saya sangat merekomendasikan Dr. Sera,” ujar Irish.

Perjalanan IVF yang Tak Hanya Soal Teknologi

Pengalaman Irish menunjukkan bahwa perjalanan IVF bukan sekadar tentang prosedur dan teknologi medis. Bagi pasangan yang menjalaninya, kesiapan menghadapi proses yang panjang serta dukungan emosional juga menjadi bagian penting.

Dalam acara tersebut, lima bayi yang lahir dari program IVF bersama Dr. Wan Syahirah di Alhaya Fertility selama dua tahun terakhir turut hadir bersama keluarga mereka.

Alhaya Fertility Kuala Lumpur sendiri telah memperoleh akreditasi RTAC (Reproductive Technology Accreditation Committee), sebagai bagian dari standar layanan teknologi reproduksi berbantu.

Apdal dari Marketing Alhaya Fertility mengatakan teknologi dan standar medis memang penting dalam layanan fertilitas. Namun, menurutnya, pengalaman pasien selama menjalani program juga tidak boleh diabaikan.

“Yang paling penting adalah memastikan setiap pasien merasa didampingi, didengar, dan diberikan perawatan terbaik sepanjang perjalanan mereka.”

Sementara itu, David, Direktur TripMedis, mengatakan pihaknya telah hampir 10 tahun membantu pasien Indonesia menemukan rumah sakit dan dokter di Malaysia sesuai kebutuhan mereka, termasuk pasangan yang menjalani program bayi tabung.

Bagi Irish, perjalanan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang mengejar hasil, tetapi juga menemukan kembali rasa percaya dan harapan setelah sempat mengalami kegagalan.

Sebab, dalam perjalanan menuju dua garis, tidak semua hal bisa dikendalikan. Yang bisa dilakukan adalah terus mencari pilihan yang dirasa paling tepat, mendapatkan informasi yang cukup, dan menjalani setiap proses dengan dukungan orang-orang yang dipercaya.