Dewiku.com - Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pernikahan antara dua orang dengan beda usia terlalu jauh. Menariknya, bukan cuma terjadi antara lelaki tua dengan gadis belia, fenomena nikah beda usia ini juga dilakukan lelaki muda dengan perempuan yang jauh lebih tua.
Jika dilihat dari sisi psikologis, sebenarnya pernikahan pasangan beda usia terlalu jauh itu bagaimana, ya?
Dilansir dari Suara.com, Psikolog dari Klinik Pelangi, Irene Raflesia, M. Psi. mengatakan hubungan serius seperti pernikahan umumnya dilandasi oleh cinta dan rasa nyaman.
''Kita tidak dapat mengendalikan kepada siapa kita akan jatuh cinta, termasuk bila kita jatuh cinta pada pasangan yang memiliki rentang usia yang terpaut jauh. Sah-sah saja jika menikahi perempuan yang usianya jauh lebih tua walau mungkin stigma masyarakat kita masih memandang hal ini sebagai suatu yang unik,'' kata Irene.
Irene lalu memaparkan, perempuan memang umumnya relatif lebih cepat matang daripada laki-laki. Irene mencatut hasil studi dari Newcastle University tahun 2018 yang mengungkapkan bahwa perempuan mencapai kematangan lebih dulu dibandingkan laki-laki. Hal itu khususnya pada area kognitif serta emosi sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
''Hal ini berarti walau perempuan dan laki-laki seumur, tingkat kematangan mentalnya bisa saja berbeda. Laki-laki bisa saja merasa lebih nyaman dengan sosok perempuan yang usianya lebih tua. Hal ini mungkin diakibatkan oleh adanya asumsi bahwa semakin meningkat usia perempuan, maka tingkat kematangan mentalnya pun turut bertambah,'' kata Irene menerangkan.
Walaupun begitu, hubungan antara usia dan tingkat kematangan emosi tetap memiliki sifat yang relatif alias tidak mutlak.
Lalu bagaimana dengan banyaknya orang yang berpendapat bahwa laki-laki terkadang jatuh cinta pada sosok yang mengingatkan dia pada figur ibunya sendiri? Kata Irene, faktanya tidak selalu demikian. Menurutnya, orang memilih pasangan dengan berdasarkan pada kebutuhan yang diharapkan.
''Tiap orang memiliki kecenderungan untuk berusaha memenuhi kebutuhan afeksinya melalui pasangan. Hal terpenting adalah kita menyadari bahwa pasangan bukanlah sosok pengganti orang tua melainkan pendamping hidup kita,'' tutur dia.
Irene juga mengungkapkan bahwa beda usia terlalu jauh jelas memerlukan lebih banyak penyesuaian. Pada pernikahan dengan selisih 10 tahun ke atas misalnya, baik laki-laki maupun perempuan bisa saja memiliki tugas perkembangan yang berbeda.
Baca Juga
''Laki-laki mungkin masih sibuk mengejar karir, sementara pasangannya sudah mapan dan mencapai puncak karirnya,'' ucap dia Irene.
Penyesuaian lebih juga dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan biologis pasangan.
Walaupun berbagai perbedaan tersebut tidak selalu menimbulkan masalah, pasangan beda usia terlalu jauh tentu harus melakukan penyesuaian ekstra. Kedua pihak mesti berusaha keras memahami situasi dan apa yang diharapkan pasangan agar dapat menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.
Artikel ini sudah dipublikasikan sebelumnya di Suara.com dengan judul Nikah Beda Usia yang Terlalu Jauh di Mata Psikolog
Terkini
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari