Dewiku.com - Belakangan ini dunia maya semakin ramai dengan berbagai tren yang dilakukan anak muda zaman now, salah satunya tren ‘Kondangan Akademik’. Bahkan fenomena ini nggak cuma terjadi di kampus-kampus di Pulau Jawa, tapi juga di Sumatra, lho.
Dalam salah satu video yang cukup viral misalnya, tertulis jika kondangan akademik sedang berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya, Malang. Dalam video pendek tersebut tampak mahasiswa berjajar sambil membawa buket hadiah.
Suasana pun terlihat ramai layaknya sedang ada hajatan. Para mahasiswa ini juga memperlihatkan ekspresi bahagia menyambut momen seru perayaan kelulusan sidang skripsi.
“Katanya ini nama trennya ‘Kondangan Akademik’. Beberapa mahasiswa di salah satu kampus di Lampung ini sedang merayakan momen seusai sidang, uniknya pada momen tersebut dipenuhi bunga papan yang menjadi simbol perayaan atau hadiah dari orang-orang terdekat diberikan kepada yang sidang. Menjadikan perayaan tersebut semakin meriah”
Situasi yang serupa di dua kota berbeda seolah menjadi bukti bahwa tren ‘Kondangan Akademik’ jadi kebiasaan baru mahasiswa merayakan kelulusan dan status baru sebagai sarjana. Tentu sah-sah saja merayakan keberhasilan, tapi apa benar harus segitunya?
‘Kondangan Akademik’, Antara Tren Solidaritas dan Aksi Balas Budi
Meski sudah semakin familier, tetapi fenomena ini juga mengundang pro dan kontra. Konsepnya sendiri berupa mahasiswa datang ke sidang skripsi, seminar, atau wisuda teman. Sekilas tampak normal dan lumrah.
Tapi ternyata ada kewajiban tak tertulis yang membuat ‘tamu’ harus datang dengan dandanan yang rapi sambil membawa hadiah sebab nanti akan didokumentasikan. Bahkan dokumentasi yang dilakukan juta terkesan formal seperti di acara wisuda.
Awalnya, tren ini mungkin seru dan menyenangkan sebagai bentuk dukungan dari teman yang bikin kamu merasa berharga. Namun, di sisi lain urgensi dari tren ini juga turut dipertanyakan sebab ada dilema tersembunyi di balik keseruan itu.
Baca Juga
-
Chikita Meidy Tersandung Kasus KDRT, Siapa Bilang Cuma Lelaki yang Bisa Kasar?
-
Checklist Wajib Sebelum Nonton Konser K-Pop: Biar Seru, Nggak Drama, dan Tetap Aman!
-
Susah Tidur Karena Overthinking? Bisa Jadi Ini Salah Hormon!
-
Paula Verhoeven Juara Padel! Olahraga Hits Ini Jadi Tempat Nongkrong Baru Para Seleb
-
Nggak Semua Support Itu Sehat: Bedain Dukungan Tulus vs Toxic Positivity!
-
Google Kalah Saing? TikTok Kini Jadi Mesin Pencari Versi Gen Z!
Meski nggak terucap dan jadi aturan wajib, tapi saat kamu dihujani hadiah di momen kelulusan, pasti terbesit pemikiran buat balas budi sama teman-teman di masa mendatang.
Terutama saat mereka lulus sidang nanti, kamu akan merasa terbebani kalau nggak datang ‘kondangan’ di momen spesial mereka dan bawa bingkisan sebagai hadiah. Pada akhirnya, fenomena ini akan terus berulang bak kewajiban.
Sekarang kita nggak bisa lagi bilang kalau tren ini murni solidaritas pada teman. Sebab pemikiran buat balas budi juga bermunculan dan membuat ‘Kondangan Akademik’ jadi rutinitas yang membudaya.
Urgensi Kondangan Akademik
Kalau mau membedah fenomena ini lebih dalam, sebenarnya nggak ada urgensi dari ‘Kondangan Akademik’. Tren ini hanya berawal dari solidaritas untuk teman yang berhasil lulus seminar atau sidang skripsi.
Sifat dari solidaritas sendiri tidak wajib dan nggak ada beban buat membalas aksi tersebut. Tapi dalam perkembangannya, tren ‘Kondangan Akademik’ justru membudaya dan jadi ajang balas budi buat teman-teman yang pernah memberi dukungan.
Bahkan perayaan ini sendiri nggak harus dilakukan, kok. Boleh saja dirayakan, tapi nggak wajib. Apalagi kalau berujung dilema harus balas budi, tentu malah akan memberatkan teman-teman kita nantinya.
Belum lagi saat wisuda resmi dari kampus nanti digelar, biasanya teman-teman terdekat juga akan datang memberi dukungan. Malah jadi harus ‘kondangan’ lagi, dong. Padahal buat menyiapkan hadiah juga butuh biaya yang nggak semua orang punya ‘uang dingin’.
Buat teman-teman mahasiswa yang bersiap sidang dan bakal jadi calon sarjana, yuk mulai berpikir lebih jauh ke depan. Sebab setelah menyandang gelar akademik, kita masih harus bergelut dengan realita demi mendapat pekerjaan.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?