Dewiku.com - Meski fitur centang biru di WhatsApp memang sudah lama hadir, tapi sampai sekarang masih memicu perdebatan, terutama di kalangan Gen Z. Fungsi sederhananya yaitu memberi tanda bahwa pesan yang dikirim sudah dibaca oleh penerima.
Namun, bagi sebagian orang, terutama Gen Z, keberadaan centang biru ini nggak jarang justru menimbulkan dilema tersendiri apakah sebaiknya fitur ini dibiarkan nyala atau dimatikan saja?
Bukan sekadar soal privasi, fenomena ini juga mencerminkan pola komunikasi, budaya respons cepat, dan bahkan kesehatan mental di era digital. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Gen Z punya pandangan beragam soal fitur centang biru di WA?
Fungsi Dasar Centang Biru di WhatsApp dan Tekanan Sosial Di Baliknya
Secara teknis, fungsi dasar centang biru di WhatsApp ini berguna untuk memastikan komunikasi berjalan efektif. Namun, dalam praktiknya, centang biru bisa menjadi sumber tekanan sosial karena menimbulkan ekspektasi untuk membalas pesan segera.
Nggak bisa dimungkiri, centang biru kadang memicu overthinking. Misalnya, sudah dibaca tapi belum dibalas, anggapan orang marah karena salah bicara, respons cuek yang disengaja, dan lain sebagainya.
Bagi Gen Z yang cenderung mengutamakan kesehatan mental, mengurangi sumber kecemasan semacam ini menjadi sangat penting. Pada akhirnya, pilihan untuk mematikan centang biru menjadi salah satu cara sederhana untuk melindungi diri dari drama digital.
Gen Z: Digital Native yang Selektif
Gen Z merupakan generasi yang lahir dan besar di tengah perkembangan internet dan media sosial. Mereka juga jadi terbiasa dengan komunikasi instan tapi juga sangat sadar betul akan hak privasi digital.
Baca Juga
-
Kentut Pun Harus Elegan? Begini Cara Nikita Willy Jaga Image di Depan Suami
-
Dari Pegulat Brutal Jadi Ayah Paling Lembut di Dunia: Rahasia The Rock Jalin Ikatan Kuat dengan Anak Perempuan
-
Wajah Baru SIPA 2025: Patricia Arstuti, Representasi Gen Z yang Kreatif dan Peduli Budaya
-
Anak Aman Main Roblox? Jangan Salah, Konten Dewasa di Sana Bisa Bikin Trauma!
-
Gaya Minimalis Dua Sahabat: Adu Gaya Hanggini dan Shenina Cinnamon dengan Tas yang Sama
-
Prinsip Adele yang Menginspirasi: Musik Bukan untuk Mata, Tapi Telinga!
Bagi sebagian Gen Z, centang biru yang menyala terasa seperti “terikat kontrak” buat langsung membalas pesan. Padahal, nggak semua orang punya waktu atau mood untuk merespons pesan WA saat itu juga.
Akibatnya, muncul dua kubu besar, yaitu kubu centang biru nyala dan kubu centang biru mati yang memiliki alasan masing-masing atas pilihannya tersebut.
Kubu centang biru nyala biasanya percaya kalau transparansi jadi kunci komunikasi sehat yang diikuti dengan kebiasaan membalas pesan relatif cepat. Mematikan centang biru dianggap “misterius” atau bahkan “nggak terbuka”.
Sementara kubu centang biru mati lebih fokus pada kebebasan personal dan menghindari tekanan sosial. Mereka nggak mau orang lain tahu kapan pesan dibaca dan umumnya ingin membalas pesan sesuai waktunya sendiri.
Privasi Vs Keterbukaan
Perdebatan soal centang biru pada akhirnya kembali ke nilai yang dipegang. Apakah Anda lebih memprioritaskan keterbukaan kepada orang lain, atau lebih memilih menjaga ruang privasi sendiri, semua punya kelebihan masing-masing.
Namun, dalam hubungan pertemanan maupun percintaan, centang biru bisa jadi “tes kecil” soal kepercayaan. Buat mereka yang nggak mempermasalahkan fitur ini dimatikan, biasanya sudah ada kepercayaan tanpa perlu tanda baca pesan.
Namun, ada juga yang merasa nggak nyaman dengan centang biru dimatikan karena menganggap sebagai tanda ketidakjujuran atau keinginan menghindar.
Faktanya, hubungan sehat nggak bergantung fitur WhatsApp, tapi pada komunikasi yang dibangun di luar layar. Gen Z yang bijak akan memahami bahwa centang biru hanyalah fitur, bukan ukuran kasih sayang atau keseriusan.
Tips Bijak Mengatur Centang Biru ala Gen Z
Terlepas dari perdebatan yang ada, Gen Z sendiri punya tips bijak mengatur centang biru yang bisa diterapkan semua generasi, berikut beberapa di antaranya.
- Kenali kebutuhan diri, kalau centang biru bikin stres ya matikan saja tanpa rasa bersalah.
- Komunikasikan dengan orang terdekat bahwa centang biru dimatikan bukan berarti menghindar.
- Atur notifikasi dengan menggunakan “mute” untuk grup yang ramai biar nggak kewalahan.
- Jangan terlalu baper sebab orang lain juga punya kesibukan dan urusan masing-masing.
- Gunakan fitur “last seen” dengan bijak agar orang nggak tahu kapan terakhir kamu online.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?