Dewiku.com - Nama Salsa Erwina Hutagalung lagi ramai dibicarakan di media sosial setelah ia menantang Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, untuk debat terbuka.
Tantangan itu muncul usai Sahroni menyebut orang yang mengusulkan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”. Ucapan itu dianggap merendahkan rakyat, dan Salsa pun langsung pasang badan untuk mengkritiknya.
Dalam tantangannya, Salsa menyinggung soal tunjangan DPR, akuntabilitas anggota dewan, hingga sikap Sahroni yang kerap pamer harta.
Ia menegaskan bahwa kekayaan tidak bisa membeli keberanian, empati, maupun tanggung jawab atas ucapan seorang pejabat publik. Namun, Sahroni justru memilih untuk tidak meladeni ajakan debat tersebut.
Meski tantangannya belum direspons serius, keberanian Salsa justru bikin banyak orang kagum. Dengan latar belakang akademik yang mentereng, pengalaman internasional, serta konsistensinya menyuarakan kritik, Salsa dianggap mewakili suara anak muda yang peduli pada transparansi dan akuntabilitas pejabat negara.
Siapa Sih Salsa Erwina Hutagalung?
Salsa Erwina Hutagalung adalah influencer muda dan diaspora Indonesia yang kini tinggal di Aarhus, Denmark. Ia dikenal sebagai konten kreator sekaligus edukator lewat podcast populernya, “Jadi Dewasa 101”, yang membahas berbagai isu seputar tumbuh dewasa, kehidupan, sampai hal-hal penting buat generasi milenial dan Gen Z.
Selain aktif di media sosial, Salsa punya rekam jejak akademik dan karier yang cukup impresif. Ia pernah menjadi mahasiswa berprestasi nasional, juara debat internasional, hingga kini bekerja di perusahaan energi terbarukan Denmark, Vestas, sebagai Agile Portfolio Specialist.
Jadi, meski jauh dari Indonesia, Salsa tetap konsisten menyuarakan kritik sosial dan politik tanah air lewat kontennya. Buat yang mengikuti perjalanannya, Salsa bukan hanya sekadar influencer biasa. Ia dikenal kritis, vokal, dan berani angkat suara soal isu-isu publik.
Tantangannya kepada Ahmad Sahroni makin menegaskan posisinya sebagai figur muda yang peduli pada keadilan dan keterbukaan.
Baca Juga
-
Kronologi Lengkap Tragedi Affan Kurniawan di Tengah Demo DPR Hingga Janji Jusuf Hamka untuk Keluarganya
-
Ketahuan! Me Time Nikita Willy Ternyata Nggak Mahal, Cuma Scroll Konten Ini di Sosmed
-
Kakak Perempuan Pertama: Mini Version dari Ibu yang Lebih Ditakuti Adik-Adiknya
-
Arya Khan Evaluasi Harga Jualan Pinkan Mambo, Jawabannya Kok Relate Banget Sama Netizen?
-
Momen Ameena Ngotot Belikan Jam Tangan untuk Papata, Tapi Cara Bayarnya Bikin Ngakak
-
Kekerasan Pada Perempuan dan Anak Bukan Kebetulan, Kurangnya Edukasi Gender Jadi Penyebab
Latar Belakang Pendidikan dan Karier
Salsa menempuh pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2010–2014. Ia lulus dengan predikat lulusan terbaik departemen dengan IPK 3,81 dari 4,00, sekaligus didapuk sebagai Mahasiswa Berprestasi Nasional 2014.
Selama kuliah, Salsa aktif ikut kompetisi debat internasional. Ia sempat mewakili Indonesia di ajang debat dunia di Berlin tahun 2012, bahkan menjuarai debat internasional di Nanyang Technological University pada 2014.
Prestasinya ini membuktikan kalau Salsa bukan cuma pintar teori, tapi juga piawai dalam menyampaikan argumen. Setelah lulus, Salsa merantau ke luar negeri.
Kariernya dimulai sebagai Content Marketing Executive hingga akhirnya menjabat Head of Business Development di iPrice Group Malaysia selama lebih dari empat tahun.
Pada 2022, ia bergabung dengan Vestas, perusahaan energi terbarukan di Denmark, dan menempati posisi strategis sebagai Strategy Manager.
Meski sudah mapan di luar negeri, Salsa tetap punya perhatian besar terhadap kondisi tanah air. Podcast “Jadi Dewasa 101” yang ia kelola menjadi ruang aman bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, sekaligus menyuarakan keresahan sosial. Dari sinilah, kritiknya terhadap Ahmad Sahroni mendapat banyak sorotan.
Sosok Salsa Erwina Hutagalung membuktikan bahwa anak muda Indonesia bisa bersuara lantang meski berada jauh di perantauan. Latar belakangnya sebagai lulusan terbaik HI UGM, segudang prestasi debat internasional, dan pengalaman kerja global membuat kritiknya bukan sekadar omongan kosong.
Tantangan Salsa kepada Ahmad Sahroni mungkin tidak diladeni, tapi keberaniannya jelas memberi inspirasi. Di tengah kondisi politik yang sering bikin rakyat pesimis, hadirnya figur seperti Salsa jadi pengingat bahwa generasi muda tetap punya suara yang kuat untuk menuntut akuntabilitas pejabat publik.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?