Dewiku.com - Belakangan ini, warganet dihebohkan dengan munculnya tren “War Duda” setelah kabar perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha resmi mencuat. Status Arhan sebagai duda muda langsung jadi sorotan publik.
Bahkan nggak sedikit warganet perempuan yang langsung mengirimkan DM (direct message) ke akun media sosial sang pesepak bola, baik dengan tujuan memberi dukungan mental maupun ‘menggatal’ ke Arhan.
Nggak sampai di situ, isi DM tersebut kemudian dijadikan konten berupa tangkapan layar untuk dipamerkan ke publik demi join tren “War Duda” yang menargetkan Pratama Arhan.
Sebagian warganet menganggap hal ini sekadar hiburan iseng, tapi nggak sedikit juga yang menilai fenomena ini justru mengkhawatirkan karena bisa dianggap sebagai tanda lunturnya harga diri perempuan demi konten viral.
Dari Perceraian ke Fenomena "War Duda"
Perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha tentu menjadi kabar besar, mengingat keduanya adalah pasangan muda yang disorot publik sejak awal pernikahan. Status Arhan sebagai duda kemudian memicu tren kontroversial.
Banyak perempuan mengaku iseng mengirim pesan manis, rayuan, atau bahkan ‘menawarkan diri’ sebagai calon istri lewat DM. Beberapa di antaranya bahkan nggak segan memamerkan SS dari DM tersebut ke media sosial dengan caption bernada humor.
Dari situlah, muncul istilah “War Duda” yang seolah-olah ada kompetisi terbuka untuk mendapatkan perhatian dari duda populer seperti Pratama Arhan.
Lucu-lucuan atau Malu-Maluin?
Bagi sebagian orang, tren ini dianggap lucu dan hiburan iseng yang memang kerap muncul jadi bagian dar ‘budaya’ internet. Mereka menganggap “War Duda” hanyalah guyonan yang bisa bikin timeline lebih hidup.
Baca Juga
-
Dengerin Suara Merdu Shanna Shannon Nyanyi Ibu Pertiwi: Serasa Jadi Doa untuk Negeri
-
Ulang Tahun Paling Berwarna Sri Mulyani: Dari 63 Karangan Bunga Sindiran sampai Rumah Dijarah
-
Rumah Tangga Harmonis Versi Ayudia Bing Slamet: Ngalah, Nggak Semua Harus Dilawan
-
Pernah Tolak Tawaran Jadi Politisi, Alasan Cinta Laura Ternyata Relate Sama Kondisi Sekarang
-
Kompor Diumpetin, Arya Khan Cegah Pinkan Mambo Launching Produk Baru: Alasan Ini!
-
Jessie J Batalin Konser Tur di Amerika, Alasannya Bikin Fans Nggak Bisa Marah!
Apalagi, objeknya adalah figur publik seperti Arhan yang sedang jadi sorotan. Join tren ini seolah jadi tren wajib warganet hits sebagai bahan konten yang dianggap seru.
Namun, di sisi lain, banyak juga yang menilai tren ini kurang pantas. Bagaimana pun juga, perceraian adalah hal serius yang menyangkut kehidupan pribadi seseorang. Menjadikannya bahan konten justru bisa dianggap nggak peka terhadap situasi.
Lebih jauh, ketika perempuan ramai-ramai pamer DM ke duda, sebagian warganet khawatir hal ini bisa dilihat sebagai turunnya harga diri perempuan hanya demi mencari engagement di media sosial.
Perspektif Gender: Ketika Aksi Perempuan Jadi Bahan Konten
Fenomena “War Duda” ini memperkuat argumen para pemerhati gender bahwa media sosial sering kali merugikan perempuan. Dalam tren ini, seolah-olah perempuan digambarkan berlomba merebut perhatian seorang pria.
Padahal, realitasnya bisa lebih kompleks. Banyak yang sekadar bercanda, tapi ketika tangkapan layar dipublikasikan, maka pesan yang sampai ke publik adalah perempuan nggak segan menjatuhkan martabatnya demi interaksi online.
Inilah yang membuat sebagian kalangan menilai tren ini bukan sekadar hiburan, tapi juga refleksi tentang bagaimana media sosial memengaruhi cara orang, khususnya perempuan, melihat nilai dirinya.
Namun, persepsi ini juga nggak sepenuhnya salah. Terlebih karena muncul narasi judul dengan frasa ‘war duda’ dan ‘menggatal’ yang terkesan negatif. Perempuan seolah menjadi pribadi agresif mengejar laki-laki yang bahkan baru saja menyandang status duda.
Budaya Viral: Serba Instan, Serba Receh
Tren “War Duda” juga membuktikan betapa cepatnya budaya viral bekerja. Cukup ada satu isu besar, dalam hal ini perceraian Pratama Arhan, publik segera menemukan cara untuk menjadikannya bahan hiburan massal.
Namun, tren serba instan ini punya konsekuensi. Demi kejar hal viral, banyak yang rela mengabaikan etika dan sensitivitas. Perempuan yang seharusnya bisa tampil dengan karya atau prestasi, justru masuk ke lingkaran gimmick “berebut duda” demi tayangan dan likes.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?