Dewiku.com - Aktris Mona Ratuliu baru-baru ini jadi sorotan publik setelah menyuarakan kritik pedas terhadap pemerintah melalui unggahan di Instagram pribadinya. Dengan gaya penyampaian yang tidak biasa, perempuan kelahiran 1982 itu menggambarkan kondisi hubungan rakyat dengan pemerintah seperti layaknya toxic relationship alias hubungan asmara yang tidak sehat.
Dalam unggahannya, Mona menulis, “Aku cinta Indonesia. Itu dulu. Sekarang hubungan kita udah toxic relationship.” Ia menilai pemerintah kerap merasa benar sendiri, sulit menerima masukan dari masyarakat, bahkan memberi tekanan balik ketika rakyat mencoba memberikan kritik.
"Kamunya ngerasa bener terus. Nggak mau disalahin. Boro-boro kamu mau dengerin pendapat aku. Giliran dikasih masukan, akunya di-KDRT. Bahkan bisa dibunuh! Mestinya kan kamu ngelindungin aku, bukannya malah khianatin aku terus-terusan. Minta duit mulu lagi!” tulis bintang sinetron tersebut dalam nada kesal.
Lebih lanjut, istri dari Indra Brasco ini menuturkan bahwa rakyat kini semakin sulit mempertahankan rasa cinta kepada Indonesia jika kondisi tak kunjung membaik. Menurutnya, pemerintah butuh usaha besar untuk kembali meraih kepercayaan masyarakat.
"Dengan luka yang sedalam ini, kalau kalian mau memperbaiki hubungan kita, butuh effort yang besar sekali," jelas Mona. Ia juga memperingatkan agar pemerintah berhenti memberi janji-janji kosong atau silent treatment yang justru membuat masyarakat makin muak.
Di akhir pesannya, Mona menegaskan tuntutannya. “Kami butuh effort yang lebih besar dari bapak dan ibu yang menunjukkan keseriusan kalian dalam mengembalikan kepercayaan kami. SEGERA! DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA!” tegasnya.
Toxic Relationship Antara Rakyat dan Pemerintah, Dampaknya Nggak Main-Main!
Hubungan yang toxic antara rakyat dan pemerintah ternyata bisa membawa dampak yang serius, lho. Nggak cuma bikin suasana jadi nggak nyaman, tapi juga bisa menghambat stabilitas negara dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mulai dari turunnya kepercayaan publik, minimnya partisipasi warga, sampai efek psikologis yang bikin rakyat merasa stres dan tidak berdaya. Yuk, kita jelentrehkan satu per satu.
Baca Juga
-
Agnez Mo Beri Komentar Menohok Soal Kemampuan Bicara Wakil Rakyat: Berawal dari EQ yang Buruk
-
Keponakan Chika Jessica Jadi Korban Salah Pukul Oknum Polisi, Alami Luka dan Trauma!
-
Turnamen Golf DPR Berhadiah Fortuner Hingga Pajero Dibatalkan, Tapi Publik Keburu Nyinyir
-
Mengulik Psikologi Warna Pink, Hijau, dan Biru yang Jadi Tren Foto Profil Medsos
-
Jam Tangan 11 Miliar Sahroni Ditemukan, Netizen Sindir Kinerja Gercep Polisi: Kalau Motor Warga Dicuri Nggak Ketemu
-
Jadi Pertanyaan Publik: Dinonaktifkan dari DPR, Gaji dan Tunjangan Masih Jalan Nggak Sih?
Dampak pada Stabilitas dan Kepercayaan Publik
Pertama, kepercayaan publik bisa menurun drastis kalau rakyat merasa dirugikan atau nggak pernah didengar. Ketika masyarakat sudah kehilangan rasa percaya pada pemerintah, otomatis muncul ketidakstabilan sosial. Dari situ, risiko konflik, protes, bahkan kericuhan massal jadi lebih tinggi, dan akhirnya bisa mengancam stabilitas politik.
Dampak pada Partisipasi dan Pembangunan
Kalau hubungan sudah toxic, rakyat biasanya malas berpartisipasi dalam pembangunan atau proses politik. Mereka merasa suara mereka nggak ada artinya, sehingga perubahan positif pun sulit terwujud.
Selain itu, lemahnya penegakan hukum juga jadi masalah. Pemerintah yang toxic cenderung nggak transparan, pilih kasih, dan akhirnya hukum hanya berlaku untuk sebagian orang.
Dampak pada Pengembangan Sosial dan Ekonomi
Suasana yang penuh tekanan juga bikin rakyat kesulitan berkembang, baik secara pribadi maupun sosial. Ibaratnya kayak kerja di lingkungan yang toxic, mau maju jadi susah karena tidak ada dukungan.
Lebih jauh lagi, hal ini bisa menurunkan kualitas hidup masyarakat. Negara juga jadi kehilangan daya saing ekonomi karena rakyat kehilangan motivasi untuk berinovasi.
Dampak Psikologis pada Rakyat
Dampak paling terasa ada di sisi psikologis. Rakyat bisa mengalami stres, kecemasan, sampai rasa tidak berdaya karena merasa tidak dilindungi pemerintah. Lama-lama, pesimisme bisa muncul. Mereka jadi ragu dengan masa depan negaranya dan bahkan merasa rendah diri sebagai warga.
Hubungan toxic antara rakyat dan pemerintah jelas bukan hal yang sepele. Kalau dibiarkan terus menerus, dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan, baik sosial, politik, maupun ekonomi. Karena itu, penting banget buat pemerintah menunjukkan empati, transparansi, dan keseriusan agar hubungan ini bisa diperbaiki dan kembali sehat.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?