Dewiku.com - Dalam beberapa tahun terakhir, cara pandang terhadap pernikahan mengalami pergeseran signifikan, terutama di kalangan generasi Z. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, terbukanya ruang berekspresi, serta perubahan nilai sosial, pernikahan tak lagi otomatis dianggap sebagai tujuan hidup yang harus dicapai. Bagi banyak anak muda, keputusan menikah kini dipandang sebagai pilihan personal, bukan kewajiban sosial.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Perubahan tersebut lahir dari dinamika sosial dan ekonomi yang memengaruhi cara generasi Z memaknai relasi, komitmen, dan kebahagiaan. Salah satu faktor yang paling menonjol adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Generasi Z tumbuh dengan literasi psikologis yang lebih terbuka. Mereka terbiasa membicarakan isu seperti trauma masa kecil, beban emosional, hingga relasi yang tidak sehat. Kesadaran ini membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk pernikahan. Bagi mereka, memasuki pernikahan tanpa kesiapan emosional berisiko memicu konflik berkepanjangan dan berdampak pada kualitas hidup.
Di sisi lain, kehidupan modern menuntut individu untuk mengenal diri secara lebih mendalam sebelum membuat komitmen jangka panjang. Tak sedikit anak muda yang memilih fokus pada proses penyembuhan diri, membangun batasan yang sehat, serta mencari kestabilan emosional. Kesehatan mental dipandang sebagai fondasi utama yang tidak bisa ditawar, bahkan sebelum membicarakan pernikahan.
Faktor ekonomi juga tak bisa diabaikan. Kenaikan harga kebutuhan hidup, biaya pendidikan yang terus meningkat, serta ketidakpastian dunia kerja membuat generasi Z memandang pernikahan sebagai tanggung jawab besar yang memerlukan kesiapan finansial matang. Mulai dari biaya pernikahan, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari, semua menuntut perencanaan yang realistis. Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, kemandirian finansial kerap menjadi prioritas utama.
Perubahan gaya hidup turut memperkuat sikap ini. Dengan akses informasi yang luas, generasi Z lebih terbuka terhadap konsep keluarga dan kebahagiaan yang tidak selalu berpusat pada pernikahan. Mereka melihat makna hidup dapat ditemukan melalui pencapaian pribadi, relasi pertemanan yang sehat, atau perjalanan karier yang memberi kepuasan. Kebebasan untuk mengeksplorasi diri menjadi nilai yang ingin dijaga.
Kesadaran akan kesetaraan gender juga membentuk cara pandang generasi Z terhadap pernikahan. Mereka cenderung kritis terhadap pola hubungan yang timpang dan menuntut adanya kemitraan yang setara. Pernikahan ideal bagi mereka bukan sekadar status, melainkan relasi yang adil, suportif, dan saling menghargai. Sikap selektif ini membuat banyak dari mereka memilih menunda pernikahan hingga benar-benar merasa siap.
Meski demikian, generasi Z bukan menolak pernikahan sepenuhnya. Mereka tetap memandang pernikahan sebagai bagian dari perjalanan hidup, namun menempatkannya sebagai pilihan yang sadar. Keputusan menikah harus membawa nilai tambah secara emosional, mental, dan sosial—bukan sekadar memenuhi ekspektasi lingkungan.
Bagi generasi Z, hidup yang seimbang, sehat, dan bermakna jauh lebih penting. Pernikahan bukan lagi garis finis, melainkan salah satu kemungkinan yang layak dipilih ketika kesiapan itu benar-benar hadir.
(Clarencia Gita Jelita)
Baca Juga
-
Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
-
FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
-
Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
-
Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
-
Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
-
Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
Terkini
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone