dewiku.com - Pada Senin (22/6) dini hari, sekira pukul 03.00 WIB, personel polisi dari Polres Simalungun menangkap Thomson Ambarita yang masih terlelap di rumahnya.
Rupanya, selain menangkap Thomson Ambarita, polisi juga menangkap Jonny Ambarita, Giovani Ambarita, Parando Tamba, dan Dosmar Ambarita.
Kepada Dewiku, istri Thomson Ambarita yaitu Mersi Silalahi mengatakan bahwa seminggu sebelum suaminya ditangkap, hampir setiap hari ada aparat yang datang mengintai ke kampung mereka.
"Suami saya sudah dua kali dipenjara. Di tahun 2019 dapat vonis 9 bulan penjara. Sekarang masih tahanan Polres belum ke Kejaksaan. Mudah-mudahan polisi membebaskan mereka," ucapnya saat ditemui Dewiku di Media Center PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (11/9) lalu.
Konflik antara PT. Toba Pulp Lestari atau TPL dengan masyarakat adat di Simalungun sendiri berawal dari klaim sepihak pemerintah terhadap tanah adat Ompu Mamontang Laut Ambarita dan Ompu Umbak Siallagan tanpa persetujuan dari dua komunitas adat tersebut.
Akibatnya, akses masyarakat adat terhadap tanah mereka menjadi hilang. Belum lagi dampak aktivitas perusahaan yang mengakibatkan kerusakan masif di atas wilayah adat mereka.
Tak hanya mengambil alih tanah adat dan merusak lingkungan, konflik tersebut rupanya menyisakan trauma tersendiri bagi kelompok perempuan dan anak di sana.
Pernah kata Mersi, para perempuan di desanya yaitu di desa Sihaporas, harus bertahan hidup dan melindungi satu sama lain tanpa kehadiran lelaki dewasa.
Selama satu bulan penuh di tahun 2019, para perempuan terpaksa menjadi tameng terakhir untuk menjaga kampung mereka.
"(Kondisi) itu ada sekitar satu bulan. Baru setelah kita ada jumpa ibaratnya dari kepolisian, mereka (laki-laki) pelan-pelan balik lagi ke kampung," tambah ibu lima anak itu.
Dan setiap konflik memanas, Mersi menyebut orang-orang di desanya akan saling jaga selama 24 jam penuh lantaran adanya perasaan diintai.
"Yang jelas siang malam ada drone datang. Makanya kita sekarang itu harus berjaga 24 jam karena kita merasa diintai."
Bukan hanya teror drone, kedatangan aparat menenteng laras panjang juga jadi pemandangan biasa.
"Memang tidak ngomong sih, tapi kami merasa terintimidasi dan terancam di wilayah kita sendiri karena kita beranggapan akan terjadi penculikan seperti yang dialami kawan kita," katanya.
Tidak hanya itu, tempat sakral untuk melakukan ritual adat serta hutan yang menjadi sumber obat-obatan masyarakat juga telah berganti menjadi tanaman ekaliptus milik PT. Toba Pulp Lestari.
Di tahun 2024 ini, Mersi mengatakan bahwa hutan di sekitar dua mata air di Sihaporas sudah tidak ada. Karena tidak ada hutan, maka aliran air ke Danau Toba itu pun sudah tak ada.
"Makanya sekarang itu debit dari air Danau Toba itu tidak bagus. Dan daripada TPL kami akui, limbahnya akan mengalir ke Danau Toba juga," pungkas Mersi Silalahi.
Terkini
- Kenalan dengan Top 16 Zetrix Miss Universe Indonesia 2025, Angkat Keberagaman Kecantikan
- 15 Marketers Lintas Industri Ngumpul Bareng, Bahas Masa Depan Marketing di Era AI
- Mengintip Tren Kecantikan dan Fashion di BRI The BFF Festival 2025, Ada Apa Saja?
- Wajah Baru SIPA 2025: Patricia Arstuti, Representasi Gen Z yang Kreatif dan Peduli Budaya
- Morning Flow: Yoga Pagi di Alam Terbuka, Cara Baru Mulai Hari dengan Lebih Segar
- Mencari Semar: Teater Koma Hadirkan Lakon yang Imersif dan Penuh Makna
- Tradition Meets Couture: Saat Mbok Jamu Melangkah ke Panggung Runway
- Puluhan Ribu Anak Ikut Seru-Seruan di Festival Hari Anak 2025: Dari Dongeng Ariel NOAH Sampai Ketemu Dinosaurus!
- Cewek & Komunitas K-pop Lokal: Nggak Cuma Fangirling, Tapi Juga Bikin Aksi Sosial!