Dewiku.com - Kain batik kerap dianggap sebagai koleksi alih-alih item fesyen. hal itu terjadi lantaran bentuknya yang masih menjadi kain, dan cara menggunakannya yang dianggap ribet serta terbatas.
Akibatnya, tak sedikit pula yang memilih memotong kain tersebut untuk kemudian dijadikan kemeja.
Pemerhati batik Dave Tjoa berpendapat, keputusan itu bisa ditentukan dengan melihat bentuk dari kain batik tersebut.
"Kita perlu lihat dulu kalau kain ini sangat langka, lebih baik jangan dipotong karena memiliki nilai investasi," saran Dave, saat berkunjung ke kantor Dewiku di Jakarta beberapa waktu lalu.
"Tapi kalau misalnya batik baru, misalnya beli batik tulis baru harganya Rp300 ribu, Rp500 ribu, itu mau dipotong silahkan. Karena memang kegunaannya untuk dibuat pakaian."
Meski usia kain batik cenderung lawas, Dave menyarankan, perlu juga memperhatikan motifnya.
Meski kain telah berusia puluhan tahun namun motifnya terbilang umum dan masih banyak dijual, menurut Dave, tak masalah bila diubah menjadi bentuk pakaian.
Akan tetapi, masih ada nilai kualitas dari kain lawas tersebut yang masih bisa diperhatikan.
"Namanya pembuatan tahun dulu dan tahun sekarang otomatis sudah tidak bisa didapatkan. Dari segi kehalusan sudah beda, walaupun batik motif umum," ujarnya.
Baca Juga
-
MFWS 2024 Luncurkan Komunitas Pengusaha Perempuan Internasional di Malaysia: Kembangkan Bisnis dengan Kolaborasi!
-
Cegah Sembelit Usai Dinner Romantis di Perayaan Valentine, Coba Lakukan Ini!
-
Tata Cara Nyoblos Pemilu 2024, Datang ke TPS Harus Bawa Apa Saja?
-
Cara Mengecek Lokasi TPS Pemilu 2024, Nyoblos di Mana?
-
5 Potret Kim Soo Hyun, Inspirasi Outfit Sporty untuk Olahraga
-
Maia Estianty Bocorkan Cara Dapat Jodoh Terbaik, Amalannya Apa Saja?
Kain batik asli, dalam artian dibuat menggunakan canting, cairan malam, dan dengan proses manual menggunaan tangan manusia, prosesnya memang tidak pernah berubah sejak zaman dulu hingga sekarang.
Konsistensi proses itu lah, kata Dave, yang menjadi nilai serta kualitas dari batik.
Dia menegaskan kalau suatu kain hanya bisa disebut sebagai batik bila proses pembuatannya menggunakan cantik dan cairan malam.
Pembuatan batik yang diakui secara global juga hanya ada batik tulis, batik cap, dan batik cap tulis. Di luar dari itu dia menegaskan tidak bisa disebut batik.
"Batik itu dikenal dengan prosesnya kalau salah satu proses tidak ada belum tentu itu artinya batik," ujarnya.
Selama ratusan tahun lalu hingga era sekarang, Dave menyebut, kalau yang berkembang dari batik sebenarnya hanya motifnya saja. Sementara proses pembuatannya masih sama sejak dulu.
"Karena saya membatik juga jadi saya mengerti proses batik itu, dari dulu sampai sekarang prosesnya sama."
"Maka kita mempertahankan terus sampai ke anak cucu lagi ke depan supaya budaya batik ini nggak punah. Setelah sekian ratus tahun terjaga jangan sampai sekian ratus tahun ke depan hilang," kata Dave.
(Lilis Varwati)
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian