Dewiku.com - Belakangan ini, istilah trophy wife menjadi populer di media sosial dan sering kali digunakan untuk menggambarkan posisi sosial perempuan, terutama yang menikah dengan lelak lebih tua, lebih kaya, dan lebih sukses.
Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan trophy wife?
Secara sederhana, trophy wife dapat diartikan sebagai simbol status sosial yang berfungsi untuk "memamerkan" pasangan, seperti halnya sebuah trofi yang dipajang sebagai pencapaian.
Namun, seperti banyak istilah lainnya, penggunaan trophy wife seringkali dilihat dari berbagai perspektif, dan tak jarang mengandung konotasi yang negatif.
Pasalnya banyak yang menganggapnya istilah ini sebagai sebuah label yang merendahkan, mengurangi nilai perempuan hanya berdasarkan penampilannya atau status pernikahannya.
Stereotip Trophy Wife
Berbeda dengan independent woman yang berhasil meraih dan menikmati kesuksesan lewat usaha serta kerja kerasnya sendiri, trophy wife justru menggunakan harta yang dimiliki oleh pasangannya dan kerap menghabiskannya untuk kesenangan hedonistik dan berfoya-foya.
Dari sinilah istilah trophy wife dianggap sebagai simbol status, seperti halnya kepemilikan barang mewah lainnya.
Dalam pandangan ini, perempuan tersebut diharapkan hanya tampil menarik, sementara kualitas atau kemampuan lainnya sebagai perempuan diabaikan.
Label trophy wife seringkali dipandang sebagai korban dari stereotip gender yang memfokuskan perhatian perempuan berdasarkan penampilannya, sementara kemampuan dan pencapaian lainnya diabaikan.
Baca Juga
-
Jam Koma, Virus Produktivitas yang Diam-diam Mengintai
-
Jebakan Crab Mentality: Ketika Kita Mati-Matian Mencegah Orang Lain Menggapai Sukses
-
Perjuangan Melawan KDRT dan Memutus Trauma dalam Film It Ends With Us
-
Soal Porsi Nasi Berlebih di Program Makan Bergizi Gratis
-
Sendu di Januari Biru, Alasan di Balik Perasaan Sedih saat Awal Tahun
-
Catcalling Bukan Pujian, Tak Seharusnya Dinormalisasi
Ketidakseimbangan usia dan kekayaan dalam hubungan menciptakan dinamika yang tidak sehat, di mana perempuan merasa harus selalu terikat dengan suaminya.
Akibatnya, mereka merasa terjebak dalam ekspektasi untuk mempertahankan penampilan fisik yang sempurna, agar selalu dianggap "layak" oleh pasangan dan masyarakat.
Meskipun begitu, tidak semua hubungan yang melibatkan perbedaan usia atau status ekonomi tinggi ini dapat dilabeli trophy wife.
Ada juga pasangan yang memiliki hubungan yang sehat dan saling mendukung, meskipun ada ketidakseimbangan dalam aspek materi atau usia.
Anne Kingston, Jurnalis dan penulis The Meaning of Wife, mengungkapkan pandangannya tentang trophy wife dalam wawancaranya bersama ABC News.
"Konsep tentang trophy wife telah lama berkembang, namun kini pria menginginkan wanita yang memiliki kesetaraan sosial, untuk menjalin hubungan yang sehat bukan hubungan dominan-submisif tetapi sebagai pasangan yang setara,” ujar Kingston.
Namun, stereotip tentang trophy wife tetap ada dan sulit untuk dihilangkan.
Kingston menambahkan, meskipun perempuan tersebut memiliki pencapaian yang luar biasa, label trophy wife masih sering kali mereduksi mereka hanya menjadi simbol kecantikan, mengabaikan kualitas dan prestasi mereka yang jauh lebih dalam.
"Terlepas dari seberapa sukses seorang perempuan. Stereotip ini akan terus ada, yang mana dilihat justru aspek dekoratifnya dan anggapan bahwa dia hanya seorang perempuan cantik," pungkas Kingston.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa setiap individu, terlepas dari status atau penampilannya, memiliki nilai dan kontribusi yang lebih dalam.
Stereotip tentang trophy wife hanya mengurangi kompleksitas peran perempuan dalam hubungan dan masyarakat.
Menghargai kesetaraan, pencapaian, dan kualitas sejati dalam diri seseorang, dapat menciptakan pandangan yang lebih adil dan menghormati, yang tidak terjebak pada label atau stereotip tertentu.
Penulis: Humaira Ratu Nugraha
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian