Dewiku.com - Catcalling, seringkali dianggap sebagai bentuk pujian. Padahal, nyatanya, ini adalah bentuk pelecehan seksual yang membuat banyak perempuan merasa tidak nyaman dan terintimidasi. Fenomena ini masih marak terjadi di ruang publik dan telah menjadi masalah sosial yang serius.
Disebut catcalling ketika seseorang, terutama perempuan, menjadi sasaran siulan, komentar seksual, atau panggilan vulgar yang tidak mereka inginkan.
Meskipun bagi sebagian orang terdengar sepele, kenyataannya catcalling ini memiliki dampak yang cukup merugikan bagi korban karena dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, takut, hingga terancam.
Misalnya, saat seorang perempuan sedang berjalan di trotoar dan tiba-tiba ada yang bersiul atau memberikan komentar seperti, “Cantik banget sih,” atau “Mau ke mana, Manis?” Meski bagi sebagian orang hal ini dianggap sebagai bentuk pujian, bagi perempuan yang menjadi korban, tindakan ini justru dapat membuat mereka merasa ter-objektifikasi.
Sayangnya, catcalling masih sering dianggap sebagai hal biasa oleh banyak orang. Padahal, efek psikologis yang ditimbulkan bagi korban bisa sangat merugikan.
Karina, seorang aktivis perempuan dari Amnesty International Indonesia, menyayangkan masih banyak lelaki yang tidak mengetahui istilah catcalling. Menurutnya, hal inilah yang menjadi alasan mengapa catcalling kerap dinormalisasikan.
"Catcalling itu sebenarnya bentuk pelecehan yang nggak cuma merendahkan martabat perempuan, tapi juga bikin kita merasa nggak aman di ruang publik. Nggak ada alasan buat anggap catcalling itu sebagai pujian atau hal yang sepele." ujar Karina.
Catcalling secara tidak langsung tak hanya menunjukkan pelecehan verbal, tapi juga merupakan pesan bahwa perempuan tidak memiliki kendali penuh atas ruang publik yang aman. Mereka dianggap layaknya sebagai objek yang bebas untuk dipanggil, diolok, atau bahkan diatur oleh laki-laki.
"Budaya patriarki yang bikin perilaku catcalling terus ada. Banyak laki-laki yang diajarin kalau mengomentari perempuan di ruang publik itu cara mereka nunjukin maskulinitas atau dominasi. Nah di sisi lain, perempuan sering kali diajarkan untuk nerima komentar itu sebagai bentuk perhatian atau pujian, padahal itu sebenarnya itu pelecehan,” tambahnya.
Baca Juga
-
Journaling: Nulis Diary ala Zaman Now, Terapi Gratis untuk Kesehatan Mental
-
Quarter-Life Crisis: Ketika Ketidakpastian Membayangi Fase Awal Dewasa
-
Menguak Kekuatan Tersembunyi di Balik Energi Feminin
-
Mengenal Floater Friend: Fenomena Pertemanan di Usia Dewasa
-
Kehadiran Kakek-Nenek Bisa Jadi Sumber Kekuatan Bagi Kesehatan Mental Ibu
-
Wabah Flu di China Meluas, Haruskah Dunia Bersiap Pandemi Lagi?
Dampak catcalling, terutama secara psikologis, sangat nyata bagi korban. Meskipun kelihatannya sepele, korban catcalling sering kali mengalami dampak jangka panjang yang cukup serius.
Banyak perempuan yang menjadi korban catcalling merasa cemas dan takut setiap kali harus keluar rumah atau melewati tempat-tempat yang sebelumnya menjadi lokasi pelecehan.
Dilansir dari Psychology Today, Stephanie Yee, Ph.D. yang berkecimpung dalam bidang Kesehatan Interseksional, menjelaskan perempuan yang mengalami catcalling merasa semakin tidak aman karena diperburuk dengan kenyataan bahwa mereka sering menjadi korban serangan atau bahkan dibunuh hanya karena mengabaikan catcalling.
"Trauma yang dialami oleh sebagian orang bisa mempengaruhi orang lain juga. Ini yang disebut 'vicarious trauma', seseorang bisa merasa stres meski tidak mengalami langsung kejadian traumatis itu. Misalnya, hanya dengan mendengar cerita atau melihat kekerasan di berita, bisa berdampak,” ujar Stephanie Yee, seperti dilanisr dari laman Psychology Today.
Tak hanya menimbulkan trauma, salah satu masalah terbesar terkait catcalling adalah budaya victim-blaming, di mana seringkali perempuan disalahkan atas pelecehan yang mereka alami. Misalnya, perempuan dianggap “mengundang” pelecehan karena cara berpakaian atau perilaku mereka.
Padahal, pelecehan apapun bentuknya tidak bisa dibenarkan, tidak peduli bagaimana penampilan atau perilaku korban.
"Budaya victim-blaming ini jelas tidak adil, karena perempuan sering disuruh lebih 'hati-hati' atau 'jangan menarik perhatian,' sementara pelakunya malah tidak disalahkan. Makanya, penting untuk edukasi orang-orang soal kesetaraan gender dan pentingnya menghargai batasan pribadi. Biar ruang publik jadi tempat yang lebih aman dan adil buat semua orang," tutup Karina.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?