Dewiku.com - Belakangan, istilah provider mindset menjadi perbincangan hangat di kalangan kaum perempuan. Secara sederhana, provider mindset dapat diartikan sebagai pola pikir seorang laki-laki yang berorientasi pada memberikan yang terbaik bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, terutama dalam hal materi.
Namun, benarkah laki-laki dengan provider mindset adalah jaminan kebahagiaan bagi pasangannya? Atau, jangan-jangan, hal itu hanyalah fantasi belaka?
Melansir dari Huffpost, laki-laki dengan pola pikir provider adalah dia yang selalu mengutamakan keluarga. Laki-laki tipe ini tidak mementingkan diri sendiri, dan ia hidup untuk menyenangkan orang-orang yang paling disayanginya. Bahkan, demi mereka yang dicintainya, laki-laki ini rela mengerjakan banyak pekerjaan sampingan untuk mendapatkan lebih banyak uang, dan menjaga tabungannya selalu cukup untuk membahagiakan keluarga dan pasangannya.
Intinya, laki-laki ini tidak akan bisa bersantai sampai dia tahu orang-orang yang dia cintai baik-baik saja. Dan ia akan berusaha untuk mencapai kesempurnaan baik di rumah maupun di kantor.
Dengan segala kelebihan di atas, siapa, sih, yang tak mau mendapat pasangan seperti ini? Bahkan bisa dibilang, inilah tipe laki-laki yang menjadi idaman banyak perempuan.
Bagi kebanyakan perempuan, memiliki pasangan dengan provider mindset tentu saja akan memberi banyak keuntungan. Salah satunya adalah kesejahteraan finansial yang terjamin. Karena, tak peduli pasangannya bekerja atau tidak, lelaki dengan pola pikir provider akan memastikan keluarganya tak kekurangan apa pun, termasuk dalam hal materi.
Tapi, faktanya, laki-laki provider tak hanya sekadar memberikan keamanan finansial. Laki-laki dengan pola pikir ini juga seharusnya punya komitmen untuk menyediakan kebutuhan emosional pasangannya, termasuk rasa aman dan dapat diandalkan.
Itu artinya, laki-laki provider tidak akan pernah tergoda untuk berselingkuh, tidak merendahkan pasangannya, serta menghargai perempuan dengan perkataan maupun tindakannya. Jadi, tidak sekadar mapan atau kaya raya, ya.
Tantangan Memiliki Pasangan dengan Provider Mindset
Baca Juga
-
Dibayangi Patriarki, Dihantui Misogini: Realitas Pahit Perempuan di Masyarakat
-
Terjebak di Zona Nyaman? Learn to Unlearn Jadi Kunci Selamat di Era Digital
-
Membangun Mental Anak Sejak Dini: Perjalanan Panjang Menuju Keseimbangan Emosional
-
Era Digital, Era Kompetisi: 6 Karakter yang Harus Dimiliki Anak Muda agar Sukses
-
Jangan Lupa Bahagia: Rayakan Valentine dengan Cintai Diri Sendiri
-
Tagar #KaburAjaDulu, Ketika Anak Muda Angkat Tangan pada Realita
Di balik 'keindahan' yang ditawarkan, ada tantangan yang dihadapi ketika perempuan memiliki pasangan dengan provider mindset. Pertama, laki-laki dengan provider mindset seringkali dituntut untuk memiliki penghasilan yang besar. Hal ini dapat menjadi beban tersendiri bagi laki-laki tersebut.
Provider mindset juga terkadang dikaitkan dengan peran gender yang kaku, di mana laki-laki harus selalu menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini dapat membatasi potensi perempuan untuk berkarier dan mandiri.
Nah, dengan segala pertimbangan di atas, apakah kamu tertarik memiliki pasangan dengan pola pikir provider?
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?