Dewiku.com - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau AI telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Namun, di balik manfaatnya, AI juga membuka celah baru bagi para pelaku kejahatan, terutama dalam ranah penipuan cinta daring atau love scam. Dalam setahun ke depan, tren penipuan cinta di internet diperkirakan akan meningkat tajam akibat penyalahgunaan AI.
Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan dari tren ini adalah bagaimana AI dapat mengaburkan batas antara interaksi manusia dan digital. Dengan chatbot yang didorong oleh AI menjadi lebih canggih dan mampu meniru koneksi emosional, penipu menemukan cara baru untuk mengeksploitasi teknologi ini.
Modus Operandi yang Semakin Canggih
AI memungkinkan para penipu untuk menciptakan profil palsu yang sangat meyakinkan. Mereka dapat menghasilkan foto dan video palsu, bahkan meniru suara seseorang dengan sangat akurat.
Selain itu, AI juga memungkinkan penipu untuk mempersonalisasi taktik mereka. Mereka dapat menganalisis data korban dari media sosial untuk memahami minat dan kelemahan mereka. Dengan informasi ini, penipu dapat membuat cerita yang sangat sesuai dengan harapan korban, sehingga mereka lebih mudah terjerat dalam perangkap.
Dari persona yang dihasilkan oleh deepfake hingga percakapan yang dibantu AI yang membangun kepercayaan seiring waktu, modus yang terus berkembang ini membuat semakin sulit bagi korban untuk membedakan antara cinta yang tulus dan penipuan.
1 dari 4 Orang Pernah Godain AI
Dalam riset global baru yang dilakukan oleh World menunjukkan bahwa lebih dari satu dari empat responden mengakui telah menggoda chatbot yang didorong oleh AI. Survei ini menunjukkan pengaruh AI yang semakin meningkat dalam hubungan sosial dan evolusi global, termasuk di Indonesia.
Berikut hasil survei selengkapnya:
- Lebih dari seperempat responden (26%) mengaku menggoda chatbot atau AI, baik untuk bersenang-senang atau tanpa disadari.
- Sebagian besar 90% responden menunjukkan bahwa mereka lebih suka aplikasi kencan menyertakan sistem verifikasi untuk memastikan bahwa pengguna adalah manusia nyata.
- 60% partisipan telah mencurigai atau menemukan bahwa seseorang yang mereka cocokkan adalah bot atau AI.
- 61% responden mengatakan mereka khawatir akan menemui bot atau profil palsu di aplikasi kencan.
- Dua pertiga responden (66%) percaya bahwa aplikasi kencan tidak mengambil langkah-langkah yang memadai untuk memverifikasi manusia yang nyata.
- 21% responden mengatakan mereka telah mengalami upaya phishing.
- 10% mengatakan mereka telah berinteraksi dengan bot.
- 15% mengatakan mereka telah menemui baik phishing maupun bot.
Berdasarkan temuan-temuan di atas, terlihat bahwa orang-orang semakin nyaman dan bergantung pada teknologi komunikasi berbasis AI, melampaui layanan pelanggan konvensional dan pertukaran fungsional untuk terlibat pada tingkat yang lebih dalam. Ini termasuk orang Indonesia yang mengadopsi koneksi digital ini seiring dengan perkembangan teknologi AI, dengan chatbot yang semakin emosional dan interaktif
Baca Juga
-
Di Balik Aroma Parfum, Ada Pesan Tak Terucap Tentang Diri Anda
-
Terancam Naik, UKT Perguruan Tinggi Makin Berat di Kantong Mahasiswa
-
Apakah Normal Merasa Tak Cocok dengan Hasil Personal Color?
-
Pencitraan Semu: Awas Fake Hero dalam Lingkaran Kekuasaan
-
5 Tuntutan BEM UI dalam Aksi Indonesia Gelap
-
Dibayangi Patriarki, Dihantui Misogini: Realitas Pahit Perempuan di Masyarakat
Bersamaan dengan maraknya kisah-kisah sukses dalam dunia percintaan online, kasus penipuan kencan online pun semakin umum ditemui.
Hingga pada akhirnya, hal ini mendorong semakin banyak orang memverifikasi kemanusiaan mereka dengan fitur 'Proof of human'. Hal ini merupakan bentuk kewaspadaan dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, sehingga kita dapat melindungi diri kita sendiri dan orang lain dari menjadi korban.
"Dengan AI yang semakin maju, semakin sulit untuk membedakan apakah video atau foto itu asli, yang telah terbukti bermasalah ketika pria berusaha mendekati seorang wanita ataupun sebaliknya. Kami percaya bahwa Proof of Human sangat penting: memastikan bahwa ada orang asli di ujung sana, sangat penting untuk mencegah penipuan dan melindungi kesejahteraan mental kita,” demikian dikatakan Wafa Taftazani, General Manager Indonesia di Tools for Humanity.
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?