Dewiku.com - Kanker ovarium masih jadi momok besar bagi perempuan Indonesia. Masalahnya, gejala awalnya tidak spesifik, sehingga sebagian besar pasien baru terdiagnosis saat sudah masuk stadium lanjut. Meski sudah menjalani operasi dan kemoterapi, angka kekambuhan tetap tinggi, terutama dalam tiga tahun pertama.
Menurut dr. Muhammad Yusuf, Sp.OG(K) Onk, mayoritas pasien baru terdeteksi saat stadium 3 atau 4.
“Risiko kambuh sangat tinggi setelah kemoterapi awal, karena itu penting sekali bagi pasien untuk konsisten menjalani pengobatan lanjutan,” jelasnya dalam edukasi publik bertajuk Mengenal Kanker Ovarium dan Terapi Inovatifnya.
Panduan internasional seperti ESMO dan NCCN kini merekomendasikan pemeriksaan HRD (Homologous Recombination Deficiency) dan BRCA sejak awal setelah operasi. Pemeriksaan ini penting untuk menentukan terapi lanjutan yang tepat. Pasalnya, sekitar 50% pasien kanker ovarium stadium lanjut berstatus HRD-positif.
Di sinilah peran maintenance therapy jadi sangat penting. Studi internasional menunjukkan terapi ini bisa memperpanjang masa bebas penyakit secara signifikan.
Misalnya, pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab bisa bertahan hingga 37 bulan bebas kambuh—hampir dua kali lebih lama dibanding hanya dengan Bevacizumab. Bahkan, untuk pasien dengan mutasi BRCA, risiko progresi bisa turun sampai 70%.
Dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia, menegaskan akses ke pemeriksaan HRD dan maintenance therapy sangat krusial.
“Data klinis sudah jelas menunjukkan manfaatnya. Semakin cepat pasien mendapat akses, semakin besar peluang mereka memperpanjang masa bebas penyakit dan punya kualitas hidup lebih baik,” katanya.
Selain tenaga medis, peran komunitas pasien juga penting. Cancer Information and Support Center (CISC) aktif berbagi edukasi, menghadirkan sesi diskusi bersama dokter, hingga mendampingi pasien dan keluarga.
“Pasien tidak hanya butuh obat, tapi juga dukungan emosional. Itu sebabnya kami hadir sebagai ruang belajar dan saling menguatkan,” ujar Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum CISC.
Baca Juga
-
Wedding Content Creator, Tren Baru di Balik Momen Sakral Pernikahan
-
Nutrifood Indonesia Awards 2025: Rayakan Kepemimpinan Muda dengan Hati, Bukan Sekadar Ambisi
-
Nggak Cuma Liburan, Gen Z Mulai Pilih Pariwisata Berkelanjutan yang Bikin Impact
-
Throwback Lebih Hidup: Ini Prompt AI Kreatif Biar Foto Kenangan Jadi Estetis dan Bermakna
-
Bukan Privilege, Hak Perempuan Itu Basic Human Right!
-
Love Smattering: Cinta Halus tapi Bikin Pusing, Beda Tipis dari Love Bombing
Harapannya, kolaborasi antara dokter, komunitas, dan pemangku kepentingan bisa memperluas literasi kesehatan sekaligus membuka akses terapi yang lebih baik. Dengan begitu, peluang perempuan Indonesia untuk memperpanjang masa bebas penyakit dan menjalani hidup lebih berkualitas pun semakin besar.
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian