Dewiku.com - Kekhawatiran publik terhadap efisiensi ekonomi yang sedang diterapkan memunculkan spekulasi mengenai potensi terjadinya krisis ekonomi. Namun, mal-mal yang menjual barang mewah tetap ramai. Pun kafe dengan harga kopi selangit selalu penuh. Dan yang tak kalah mengherankan, konser musik dengan harga tiket jutaan rupiah tak pernah sepi penonton.
Kita mungkin jadi bertanya-tanya, mengapa masih banyak orang yang terlihat boros dan gemar berbelanja di tengah ancaman krisis ekonomi ini.
Inilah yang disebut dengan lipstick effect, di mana masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk kepuasan kecil meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.
"Lipstick Effect" adalah fenomena di mana konsumen tetap mengeluarkan uang untuk hal-hal yang dianggap sebagai kesenangan kecil atau barang mewah terjangkau, bahkan saat resesi atau kondisi ekonomi sedang sulit.
Hal ini tercermin dari tingginya minat masyarakat untuk membeli barang-barang mewah skala kecil seperti lipstik.
Mengapa disebut "Lipstick Effect"? Analogi ini muncul karena pada saat resesi, konsumen mungkin tidak mampu membeli barang-barang mewah seperti tas desainer atau perhiasan berlian.
Namun, mereka masih mampu membeli lipstik dari merek ternama, sebagai pelipur lara dan simbol status yang terjangkau.
Istilah lipstick effect pertama kali dipopulerkan oleh seorang eksekutif dari Estee Lauder, Leonard Lauder, yang mencatat bahwa setelah tragedi 9/11 tahun 2001, permintaan lipstik melonjak hingga dua kali lipat. Kala itu, meskipun kondisi keuangan banyak orang terhimpit, penjualan lipstik dari merek-merek ternama justru meningkat pesat.
Dilansir dari Suara.com, Ekonom Eko Atmaji dari Universitas Islam Indonesia menjelaskan bahwa fenomena ini bukan hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga sekarang.
Baca Juga
-
Mengenal Sosok Sherly Tjoanda: Minta Doa Restu dari Mendiang Suami Sebelum Dilantik Jadi Gubernur Maluku Utara
-
Mengenal Fafo Parenting, Gaya Pengasuhan yang Lagi Viral: Apa Kata Ahli?
-
Adakah Dampak Cancel Culture dalam Tragedi Kematian Kim Sae Ron?
-
Hati-Hati Humblebragging: Fenomena Pamer Halus di Balik Kedok Rendah Hati
-
Fenomena Sadfishing, Tren Pamer Air Mata di Media Sosial
-
Terancam Naik, UKT Perguruan Tinggi Makin Berat di Kantong Mahasiswa
Contohnya, boneka Labubu yang dikenal sebagai mainan premium yang dimiliki Lisa BLACKPINK, tetap laris meski harganya tidak murah.
Begitu juga dengan konser musik yang selalu dipadati penonton, seolah-olah kondisi ekonomi tidak berdampak pada gaya hidup mereka.
Gaya Hidup yang Sulit Berubah
Menurut Eko, banyak orang mengalami psychology shock saat ekonomi melemah. Meski pendapatan mereka berkurang, kebiasaan konsumsi tetap sama.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ancaman krisis menghantui, sebagian besar masyarakat masih mencari cara untuk menikmati hidup, meskipun hanya dengan membeli barang-barang kecil yang membuat mereka merasa lebih baik.
Jadi, apakah kamu juga termasuk yang tetap belanja dan bersenang-senang meski kondisi ekonomi sedang tak menentu?
(Nurul Lutfia)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?