Dewiku.com - Perkembangan teknologi AI telah mengubah banyak aspek kehidupan kita, termasuk cara kita mencari pasangan. Aplikasi kencan dengan fitur-fitur canggih bermunculan seperti jamur di musim hujan, menjanjikan jodoh yang sempurna hanya dengan beberapa kali swipe. Tapi, apakah kemudahan ini membuat perjalanan cinta kita menjadi lebih menarik atau justru monoton?
Ketika AI Jadi Mak Comblang Masa Kini
Algoritma canggih dalam aplikasi kencan kini bisa menganalisis minat, hobi, bahkan kepribadian kita untuk menemukan pasangan yang paling cocok. Fitur-fitur seperti matching persentase, rekomendasi profil, dan bahkan prediksi keserasian hubungan, kian memanjakan pengguna.
Namun, di balik kemudahan ini tersimpan pertanyaan besar: apakah cinta bisa diukur dengan angka?
Bikin Foto Profil yang Hampir Sempurna
Tak perlu capek ngedit, kini kita pun bisa menyerahkan tugas mempersiapkan foto profil ciamik kepada AI. Aplikasi edit foto berbantuan AI bisa membuat kita terlihat lebih menarik, lebih tinggi, atau bahkan lebih muda.
Tak ada yang salah dengan hal ini, tapi kembali ke niat awal kita memulai hubungan: apakah ini benar-benar cara yang baik untuk memulai sebuah hubungan?
Bosan dengan ide kencan yang itu-itu saja? Kini kamu selalu bisa bertanya kepada AI. Bahkan, ketika mau chat dan bingung hendak membahas apa pun, AI selalu bisa jadi penyelamat. Seperti yang dilakukan oleh Rebecca, mahasiswa tingkat akhir berusia 21 tahun. Belakangan, ia lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan temannya, dan ia mulai memiliki perasaan romantis terhadap temannya. Ia merasa berada dalam ketidakpastian, dan ingin mengambil langkah selanjutnya, tetapi kesulitan untuk memvalidasi perasaaannya.
Minta bantuan pada teman kuliahnya? Mereka sama-sama no clue! Putus asa, Rebecca memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru - meminta saran kepada AI. Hanya dengan mengajak AI 'mengobrol', Rebecca akhirnya mendapatkan kepercayaan diri yang dibutuhkannya.
Baca Juga
-
Quarter Life Crisis? Festival of Twenties Bantu Anak Muda Hadapi Tantangan Usia 20-an
-
Menyesal Menjadi Ibu? Dilema Perempuan Ketika Pengasuhan Anak Jadi Beban Sepihak
-
Mengapa Film Natal Tak Pernah Terasa Membosankan?
-
Pentingnya Mengenal Diri Sendiri sebelum Menikah: Bukan Sekadar Menemukan Cinta, Tapi Menjadi Pasangan yang Tepat
-
Bukan Cinta, Tapi Luka: Mengenali Tanda-Tanda Emotional Abuse dalam Hubungan
-
Moms United: Bersatu Untuk Ibu Hebat
"Saya menggunakannya sebagai mentor saat saya butuh bantuan. Ini tidak akan memengaruhi semua aspek kehidupan saya. Tetapi ketika saya menghadapi situasi sosial yang membuat saya tidak nyaman atau bimbang saat mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan, saya pikir AI akan menjadi cara yang bagus untuk mengatasinya," kata Rebecca.
Ya, untuk memfasilitasi rumitnya hubungan percintaan manusia, kini lusinan asisten AI mulai bermunculan dengan tujuan yang tidak terlalu muluk-muluk. Rizz, aplikasi asisten kencan, misalnya, hadir hanya untuk memberi saran-saran obrolan bermutu dalam kencan.
"Banyak perempuan dan laki-laki - terutama laki-laki - tidak tahu bagaimana berkomunikasi secara online. Ini canggung pada awalnya, terutama untuk memunculkan kalimat pembuka yang tepat. Ini memakan waktu, seperti pekerjaan kedua," kata salah satu pendiri Rizz, Roman Khaves, melansir dari Time.
Bahkan, perusahaan aplikasi kencan mapan kini juga mulai memasukkan AI generatif ke dalam produk mereka. Match Group, perusahaan yang memiliki Tinder, Match.com, dan Hinge, merilis fitur di Tinder pada tahun 2021 yang mendeteksi pesan yang berpotensi menyinggung dan meminta pengirim untuk mempertimbangkan kembali sebelum mengirim dan bertanya kepada penerima apakah mereka ingin melaporkan pesan tersebut. Perusahaan ini juga sedang menguji alat bertenaga AI untuk Tinder yang akan membantu pengguna memilih foto terbaik mereka dan fitur yang menjelaskan mengapa pengguna lain mungkin cocok.
Perjalanan cinta di era AI memang menawarkan kemudahan dan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, kita perlu ingat bahwa cinta adalah sesuatu yang kompleks dan tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh algoritma. Teknologi memang bisa membantu kita menemukan calon pasangan, tapi chemistry, koneksi emosional, dan komitmen tetap menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah hubungan. Bagaimana menurutmu, apakah percintaan di era AI ini jadi lebih seru, atau malah terasa palsu?
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?