Sabtu, 03 Mei 2025
Risna Halidi : Selasa, 24 Desember 2024 | 19:30 WIB
Ilustrasi perempuan mengalami emotional abuse. (Dewiku)

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Dewiku.com - Tidak semua luka terlihat, dan tidak semua kekerasan meninggalkan bekas fisik.

Emotional abuse adalah ancaman senyap yang menyerang diri dari dalam yang membuat korban meragukan dirinya sendiri, kehilangan kebahagiaan, dan terperangkap dalam ketidakberdayaan.

Ilustrasi perempuan mengalami emotional abuse (Freepik)

Menurut Merriam-Webster Dictionary, abusive merujuk pada tindakan yang melibatkan kekerasan fisik, verbal, atau emosional, serta perlakuan kasar atau penghinaan yang dapat melukai seseorang baik secara fisik maupun psikologis.

Hubungan yang sehat seharusnya didasarkan pada kepercayaan, dukungan, dan rasa saling menghormati. Tanpa elemen-elemen ini, sulit bagi sebuah hubungan untuk bertahan lama.

Namun, tidak semua kisah cinta berakhir bahagia seperti di novel atau film. Banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk berpisah, dengan berbagai alasan.

Salah satu alasan yang sering muncul adalah adanya kekerasan, baik fisik (physical abuse) maupun emosional (emotional abuse), yang berlangsung dalam waktu lama.

Emotional abuse ini berbeda dari kekerasan fisik yang terlihat jelas melalui luka atau memar. Kekerasan emosional menyerang mental korban dan sering kali tanpa disadari oleh korban sendiri.

Hal ini di akibatkan oleh manipulasi yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap situasi yang dialami.

Dilansir dari Psychology Today, emotional abuse merupakan pola perilaku di mana pelaku menanamkan rasa takut pada korban melalui penghinaan atau upaya mempermalukan, dengan tujuan mengontrol mereka.

Dampak kekerasan ini mencakup berkurangnya rasa percaya diri, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, hingga menarik diri dari kehidupan sosial.

Mengapa Emotional Abuse Sering Tidak Disadari?

Budaya patriarki yang masih kuat mengakar di masyarakat,  menciptakan dinamika kekuasaan yang sering kali mendukung perilaku adanya kekerasan emosional terhadap perempuan. 

Sikap dominasi yang saat ini dianggap wajar dapat membuat pelaku merasa memiliki hak untuk mengontrol dan merendahkan pasangan mereka.

Tak hanya itu, adanya stereotip gender yang menggambarkan perempuan sebagai lebih lemah dan emosional juga memperparah situasi ini.

Banyak korban yang tidak menyadari bahwa mereka berada dalam hubungan yang penuh kekerasan emosional. Kalaupun sadar, beberapa tetap bertahan karena berbagai alasan.

Berikut adalah faktor-faktor yang membuat korban sulit mengenali atau meninggalkan hubungan yang abusive:

Terjebak dalam hubungan yang penuh dengan emotional abuse dapat merusak kesehatan emosional lho. Komunikasi yang sehat sangat diperlukan untuk mencegah kekerasan emosional ini.

Selain itu, pelajari pola bicara pasangan yang berpotensi manipulatif, dan pastikan setiap permintaan pasangan tidak mengorbankan kesejahteraan pribadi.

Jika pasangan terus menunjukkan perilaku abusive, mengakhiri hubungan adalah pilihan terbaik. Prioritaskan kesehatan emosional daripada mempertahankan hubungan yang tidak sehat, karena kebahagiaan lebih berharga daripada rasa cinta yang menyakitkan.

Penulis: Ratu Humaira Nugraha

Ilustrasi perempuan pura-pura bahagia. (Freepik/rawpixel.com)

BACA SELANJUTNYA

7 Alasan Ilmiah Kenapa Suasana Hati Perempuan Mudah Berubah: Masalah Mental atau Hormonal?