Dewiku.com - Pernahkah kamu merasakan sakit hati yang mendalam karena kehilangan seorang sahabat? Rasa sakitnya mungkin terasa lebih menusuk daripada putus cinta. Mengapa begitu?
Persahabatan adalah salah satu hubungan emosional paling penting dalam kehidupan manusia. Namun, ketika sebuah persahabatan berakhir, dampaknya bisa sangat dalam, bahkan melebihi rasa sakit dari putus cinta romantis.
Menurut sebuah studi dari Frontiers in Psychology yang dipublikasikan di National Center for Biotechnology Information (NCBI), friendship breakup atau berakhirnya persahabatan adalah fenomena yang sering diabaikan, meskipun efeknya pada kesehatan mental dan emosional cukup signifikan.
Studi ini mengungkapkan bahwa persahabatan memiliki peran besar dalam membentuk identitas dan kesejahteraan emosional seseorang. Ketika persahabatan berakhir, individu sering merasa kehilangan sistem dukungan emosional yang selama ini mereka andalkan.
Tidak jarang, rasa sakit ini diperparah oleh kurangnya pengakuan sosial atas kehilangan tersebut, yang sering dianggap sebagai hal sepele dibandingkan dengan putus hubungan romantis.
Penyebab Utama Friendship Breakup
Menurut penelitian tersebut, beberapa faktor utama yang menyebabkan friendship breakup meliputi:
- Perubahan Prioritas Hidup: Misalnya, perbedaan jalur karier, pindah tempat tinggal, atau perubahan status keluarga.
- Ketidakseimbangan Komitmen: Salah satu pihak mungkin merasa lebih banyak memberi daripada menerima dalam hubungan persahabatan.
- Konflik yang Tidak Terselesaikan: Konflik kecil yang dibiarkan tanpa penyelesaian dapat menumpuk dan akhirnya menghancurkan hubungan.
Penelitian menunjukkan bahwa friendship breakup dapat memicu gejala seperti stres, kecemasan, bahkan depresi.
Hal ini terjadi karena persahabatan sering kali menjadi tempat seseorang mencurahkan emosi dan mencari dukungan. Ketika itu hilang, individu kehilangan tempat aman yang biasa mereka andalkan.
Mengatasi Friendship Breakup
Meskipun menyakitkan, ada beberapa cara untuk mengatasi dampak friendship breakup, di antaranya:
- Menerima Perasaan: Akui bahwa kehilangan persahabatan adalah hal yang wajar dan penting untuk diproses.
- Cari Dukungan Lain: Jangan ragu untuk mencari dukungan dari keluarga atau teman lainnya.
- Refleksi Diri: Gunakan waktu ini untuk memahami apa yang salah dalam hubungan tersebut dan belajar darinya.
- Bangun Koneksi Baru: Cobalah untuk membuka diri dan membangun persahabatan baru yang lebih sehat.
Putus persahabatan memang menyakitkan, tetapi penting untuk diingat bahwa ini adalah bagian normal dari kehidupan. Meski sulit, tetapi dengan waktu dan refleksi, kita dapat belajar untuk tumbuh dari pengalaman tersebut. Ingatlah, meskipun persahabatan dapat berakhir, kemampuan untuk menjalin hubungan baru akan selalu ada.
(Nurul Lutfia)
Baca Juga
-
Komunitas Gembira Seharian: Saat Muda Mudi Sebar Kebahagiaan
-
Pebbling, Bahasa Cinta ala Penguin yang Menggemaskan
-
Tak Sepenuhnya Salah Kita: Ini Fakta Ilmiah yang Bikin Resolusi Tahun Baru Gagal Terus
-
Sebuah Rujukan: Cara Menghabiskan Malam Tahun Baru Sendirian
-
Lebih dari Sekadar Tren Estetik, Sad Beige Parenting Bisa Bikin Anak Merasa Sedih?
-
Di Balik Tren Fashion: Warna Pastel dan Artinya
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?