Dewiku.com - Pernahkah kamu membuka media sosial dan mendapati teman-teman kamu saling berkumpul tanpa memberi tahu kamu? Seketika, perasaan tidak nyaman muncul.
Perasaan tertinggal dari lingkaran sosial bisa begitu menyakitkan, bahkan membuat kita mempertanyakan nilai diri sendiri. Namun, benarkah kita benar-benar diabaikan, atau hanya terjebak dalam kecemasan yang tidak perlu?
Mengapa Kita Takut Ditinggalkan?
Ketakutan akan ditinggalkan berakar dari kebutuhan dasar manusia untuk diterima dan menjadi bagian dari kelompok sosial. Menurut Dr. Michael Kane, MD, Chief Medical Officer dan Psikiater di Indiana Center of Recovery menyebutkan bahwa perasaan ini sering kali berkaitan dengan pengalaman masa lalu, seperti pernah mengalami perundungan, diabaikan dalam lingkungan sosial, atau memiliki hubungan yang kurang stabil di masa kecil.
“Ketika kita merasa dikucilkan, baik secara nyata maupun hanya dalam pikiran kita, hal itu bisa memicu perasaan penolakan, ketidakmampuan, atau bahkan kesepian,” ungkap Michael dilansir dari Verywell Mind.
Rasa takut ini berkaitan erat dengan FOMO (fear of missing out), yang dapat dipicu mealui media sosial dan platform online.
Lebih lanjut, Micheal menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil, seperti sering merasa dikucilkan, dapat menyebabkan ketakutan ini. Pengalaman traumatis seperti perundungan atau pengabaian juga dapat memperburuk rasa takut ini, menyebabkan sensitivitas berlebih terhadap penolakan sosial.
Cara Mengatasi Ketakutan akan Rasa Tertinggal
Jika kamu sedang merasakan perasaan FOMO ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, berdasarkan saran para ahli berikut:
Baca Juga
-
Stigma atau Realita: Perempuan Enggan Bersama Laki-laki yang Tengah Berproses?
-
Memahami dan Merawat Inner Child: Kunci untuk Menyembuhkan Luka yang Tak Terlihat
-
Mom Guilt, Beban Emosional Ibu Bekerja yang Sering Tak Terlihat
-
Strategi Work-Life Balance untuk Ibu Bekerja: Keluarga Harmonis, Finansial Terjaga
-
Galau Sebelum Menikah: Antara Budget Pas-Pasan dan Ekspektasi Orang Tua yang Ketinggian
- Kenali dan Pahami Perasaanmu
Daripada mengabaikan atau menekan emosi seperti cemburu, marah, atau sedih, lebih baik mengakuinya. Memberi nama pada perasaan yang muncul dan memahami alasannya bisa membantu kamu lebih mudah mengatasinya.
Menurut Michael Kane, langkah pertama dalam mengelola emosi adalah memahami apa yang sedang kamu rasakan dan mengapa itu terjadi. Cara sederhana untuk mengenali perasaan ini bisa dengan menuliskannya dalam jurnal atau menutup mata sejenak, lalu mencoba merasakan emosi tersebut dan di bagian tubuh mana kamu merasakannya. - Jangan Langsung Berasumsi Negatif
Secara alami, otak kita cenderung membayangkan kemungkinan terburuk, yang disebut negativity bias. Sebenarnya, ini adalah mekanisme perlindungan agar kita bisa menghindari bahaya. Tapi dalam kehidupan sosial, pola pikir ini bisa membuat kita salah paham dan merasa ditinggalkan, padahal belum tentu begitu.Daripada terus merasa cemas, lebih baik bertanya langsung agar pikiran kita tidak dipenuhi asumsi yang belum tentu benar. - Beranikan Diri untuk Berkomunikasi
Banyak orang berharap orang lain bisa memahami perasaannya tanpa harus dijelaskan, padahal ini tidak realistis. Bisa saja teman-temanmu sebenarnya tidak menyadari kalau kamu merasa tersisih.
Jika ingin lebih sering dilibatkan dalam suatu acara, cobalah untuk berbicara langsung dengan mereka. Dengan mengungkapkan keinginanmu, mereka jadi lebih tahu bagaimana bisa mendukungmu. - Percaya Diri Itu Penting
Rasa takut tertinggal bisa menurunkan kepercayaan diri. Karena itu, membangun keyakinan diri menjadi langkah penting agar kamu tidak selalu merasa cemas saat tidak diajak ke suatu acara.
Michael Kane menyarankan untuk selalu mengingat bahwa setiap orang memiliki keunikan dan nilai masing-masing dalam suatu hubungan. Berada di sekitar orang-orang yang menghargai dan menerima dirimu apa adanya bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri. - Jangan Hanya Menunggu, Ambil Inisiatif
Jika kamu sering merasa tertinggal, cobalah untuk lebih aktif dalam berinteraksi dengan teman-teman. Kerena jika kamu sering menginisiasi acara atau pertemuan, kamu akan memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam berbagai aktivitas. Dengan begitu, perasaan takut tertinggal pun akan berkurang secara perlahan.
Merasa tertinggal atau tidak diikutsertakan memang bisa menyakitkan, tetapi bukan berarti kamu tidak berharga atau tidak diinginkan. (Dewiku.com/Humaira Ratu)
Tag
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?