Dewiku.com - Sebanyak 580 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI terpilih pada periode 2024-2029 telah dilantik dan mengucapkan sumpah pada 1 Oktober 2024 lalu. Tak hanya diisi kelompok usia tua, anggota DPR RI tahun ini juga diisi oleh anak-anak muda di bawah usia 30 tahun.
Menurut data Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), terdapat 55 anggota berusia 21-35 tahun, yang merupakan 10 persen dari total anggota. Salah satu anggota termuda yang menarik perhatian publik adalah Annisa Maharani Al Zahra, perempuan yang baru berusia 23 tahun saat dilantik menjadi anggota DPR.
Selain Annisa, anggota DPR Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari, atau Pinka Haprani yang juga lahir dari latar belakang politisi. Perempuan berusia 25 tahun itu merupakan putri Ketua DPR RI Puan Maharani dan cucu Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Pinka berhasil mengumpulkan 60 ribu lebih suara di dapil Jawa Tengah IV. Ia mengaku ingin memperjuangkan isu anak, perempuan, dan disabilitas pada periode pertamanya menjadi anggota DPR.
Anggota DPR muda selanjutnya adalah Hillary Brigitta Lasut yang berhasil memimpin perolehan suara terbanyak pada dapil Sulawesi Utara dengan 310.780 suara. Perempuan berusia 28 tahun ini sudah pernah menjabat sebagai anggota DPR di periode sebelumnya. Hillary merupakan putri dari Elly Engelbert Lasut yang merupakan Bupati Kepulauan Talaud.
Dikutip dari Suara.com, temuan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis pada April lalu menunjukkan, bahwa sebagian besar calon legislatif (caleg) usia muda memiliki peluang lolos sebagai anggota DPR periode 2024-2029 karena terasosiasi dengan dinasti politik.
Laporan ini terbukti selaras dengan hasil pemilihan suara 2024, setidaknya terdapat delapan politikus muda yang memiliki kekerabatan dengan elite politik. Keterwakilan anak muda pada DPR RI periode 2024-2029, yang sebagian besarnya memiliki privillage tentu menuai pro dan kontra.
Namun, terlepas dari hal itu mereka memiliki tanggung jawab besar sebagai jembatan yang menampung aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk tidak hanya memahami dinamika politik, tetapi juga menjalin komunikasi yang efektif dengan masyarakat muda, agar suara serta kebutuhan masyarakat keseluruhan dapat terwakili dengan baik.
Penulis: Humaira Ratu Nugraha/Yaumal Asri Adi Hutasuhut (Suara.com)
Baca Juga
-
Kisah Inspiratif Praktisi Muda Ikut Skema Pro Bono: Mengajar sekaligus Kembali Belajar
-
Riset 5 Negara: Patriarki Hambat Jurnalisme Sensitif Gender di Asia Tenggara
-
Girls Takeover! 20 Anak Perempuan Ambil Alih Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia dan Perutusan Kanada untuk ASEAN
-
Masyarakat Ragukan Transparansi Pemerintah Soal Pengelolaan Dana Tapera
-
13 Srikandi Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran, Keterwakilan Perempuan Sudah Ideal?
-
Berkembang Bersama, Puan Bisa Dorong Perempuan Lebih Berdaya dan Percaya Diri
Tag
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?