Dewiku.com - Pernahkah kamu merasa sedih atau khawatir akan kehilangan seseorang atau sesuatu sebelum itu benar-benar terjadi? Jika ya, kamu mungkin mengalami anticipatory grief.
Apa itu Anticipatory Grief?
Anticipatory grief adalah perasaan sedih, cemas, atau kehilangan yang muncul sebelum kehilangan sebenarnya terjadi. Ini sering terjadi ketika seseorang menghadapi penyakit terminal, atau saat kita merasa hubungan penting akan berakhir.
Lalu, apa bedanya dengan perasaan kehilangan yang umum dialami? Nah, anticipatory grief terjadi jauh sebelumnya, ketika seseorang menyadari bahwa kehilangan pasti akan terjadi dalam waktu dekat.
"Ini adalah kesedihan yang dimulai setiap kali kita menyadari bahwa kematian atau jenis kehilangan lainnya sudah dekat," jelas Litsa Williams MA, LCSW-C, seorang mental health therapist, seperti dilansir Real Simple.
Apa Saja Gejala Anticipatory Grief?
Emosi yang terkait dengan anticipatory grief mirip dengan yang terjadi setelah kehilangan. Gejala ini dapat berfluktuasi secara tak terduga dan meliputi:
• Ketakutan, iritabilitas, dan kemarahan: Selain ketakutan akan kematian, takut akan perubahan yang akan terjadi setelah kehilangan.
• Kesepian dan Kecemasan: Sering mengalami kecemasan, yang dapat memanifestasikan diri dalam bentuk gemetar, gelisah, detak jantung yang cepat, dan gejala lainnya.
Baca Juga
-
Memahami Konsep Stress Language dan Cara-cara Menghadapinya
-
Polemik Zakat untuk Makan Bergizi Gratis: Memang Dana Umat Boleh Biayai Program Pemerintah?
-
1 dari 10 Gen Z Diprediksi Bakal Berstatus 'Manajer' di Tahun 2025
-
Pemerintah Kaji Aturan Batas Usia Main Media Sosial untuk Anak, Apa Kata Bunda?
-
Realita Sekolah Swasta, Selalu Lebih Baik dari Sekolah Negeri?
-
Mengenal Gamophobia: Ketika Pernikahan Menjadi Mimpi Buruk
• Perenungan tentang kematian: Mulai membayangkan seperti apa hidup tanpa orang yang kamu cintai. Jika kamu sendiri yang sedang sekarat, kamu mungkin membayangkan bagaimana orang-orang terkasih akan melanjutkan hidup mereka tanpa kamu.
• Rasa bersalah: Perasaan bersalah dapat muncul jika menginginkan orang yang kamu cintai terbebas dari rasa sakit, bahkan jika itu berarti kematian. Atau sebaliknya, kamu mungkin merasa bersalah karena ingin mereka tetap hidup meskipun harus menderita.
Tahapan Berduka Menurut Elisabeth Kübler-Ross
Anticipatory grief merupakan respons alami dan umum terhadap kehilangan yang akan datang. Menurut Elisabeth Kübler-Ross, terdapat lima tahap berduka:
1. Penyangkalan dan Pengasingan Diri (Denial)
Tahap pertama ini dialami seseorang saat menghadapi kedukaan. Pada tahap ini, kamu akan menyangkal kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Kamu mungkin berkata, "Tidak, ini tidak mungkin terjadi pada saya."
2. Kemarahan (Anger)
Tahap ini berlawanan dengan penyangkalan, mulai menyadari dan menerima kenyataan yang dihadapi, tetapi perasaan marah muncul sebagai reaksi terhadap situasi tersebut. Kamu bisa merasa marah pada diri sendiri, lingkungan sekitar, atau bahkan pada keadaan yang dianggap tidak adil, sering kali bertanya, "Ini tidak adil. Mengapa saya harus mengalami semua ini?"
3. Tawar-menawar (Bargaining)
Pada tahap ini, kamu mulai melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, dokter, perawat, atau pihak lain dalam upaya untuk menghindari atau mengurangi penderitaan yang dialami.
4. Depresi (Depression)
Tahap depresi ditandai dengan munculnya berbagai emosi seperti marah, kecewa, sedih, kesal, dan rasa sakit yang mendalam. Ini adalah tahap yang paling berat, di mana sesorang menarik diri dan menghabiskan waktu dalam kesedihan serta tangisan.
5. Penerimaan (Acceptance)
Tahap terakhir adalah penerimaan. Kamu mulai menerima kenyataan dan menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih positif. Pada tahap ini, kamu mulai bangkit dari kesedihan dan menemukan makna baru dalam hidup.
Tidak semua mengalami seluruh tahapan ini secara berurutan. Beberapa melewati semua tahapan, sementara yang lain mungkin mengalami tahapan dalam urutan berbeda atau terjebak di satu tahap untuk waktu yang lebih lama.
Elle Markman, seorang psikolog mengatakan bahwa lima tahapan dalam beruduka ini merupakan respons alami dan umum terhadap kehilangan yang akan datang.
“Di satu sisi, ini dapat membantu seseorang mengatasi situasi dengan memungkinkan mereka memproses emosi secara bertahap dan, sampai batas tertentu, mempersiapkan diri untuk kehilangan yang sebenarnya. Di sisi lain, ini dapat menggandakan penderitaan. Menghadapinya bisa menjadi hal yang sulit, sehingga bimbingan dari konselor atau terapis dapat sangat membantu dalam memproses kesedihan ini." ungkap Elle Markman, dilansir Verywellhealth.
Lalu, mengapa kita bisa mengalami anticipatory grief? Ternyata, ini merupakan bagian dari persiapan mental, di mana otak kita mencoba memproses dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehilangan yang akan datang. Namun, mengalami anticipatory grief adalah hal yang normal. Jadi, jangan ragu untuk mencari bantuan jika kamu merasa kesulitan menghadapinya
(Humaira Ratu)
Terkini
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian
- Palet Global, Jiwa Lokal: Tren Warna 2026 yang Dekat dengan Gen Z
- Liburan Akhir Tahun Anti Ribet: Rumah Bisa Jadi Destinasi Paling Cozy
- Intim dan Membumi, Gender Reveal Alyssa Daguise dan Al Ghazali Tampil Serasi dalam Earth Tone
- Zero Post: Saat Gen Z Memilih Feed Kosong Demi Hidup Lebih Santai
- Nussa Kembali dengan Cerita Hangat, Tontonan Keluarga yang Mengajarkan Arti Janji
- Rahasia di Balik Micellar Water: Solusi Praktis Membersihkan Makeup Sehari-Hari
- Hangatkan Musim Liburan dengan Festive Charity Trunk Show: Mode, Budaya, dan Semangat Berbagi
- Niat Hidup Hemat, Tapi Tiap Minggu Tetap Checkout: Kenapa Perempuan Susah Lepas dari Jajan Kecil?