Dewiku.com - Google Doodle sering menampilkan tokoh-tokoh dunia yang memiliki prestasi luar biasa. Salah satu yang pernah dipilih berasal dari Indonesia, yakni Roehana Koeddoes, yang dikenali dengan hijab khasnya dari Sumatera Barat.
Mungkin banyak yang penasaran siapa Roehana dan mengapa Google memilihnya untuk menjadi bagian dari Doodle.
Roehana Koeddoes adalah jurnalis perempuan pertama di Indonesia, yang kiprahnya dalam dunia pers sangat berpengaruh.
Lahir pada 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Sumatera Barat, Roehana tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pendidikan, meskipun pada masa itu akses pendidikan bagi perempuan masih terbatas.
Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dalam memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Berikut beberapa hal tentang Roehanna yang telah Dewiku rangkum dari berbagai sumber.
Minat dalam Literasi dan Pendidikan
Sejak kecil, Roehana sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia literasi dan sering membaca berbagai buku serta surat kabar.
Sekolah ini bertujuan untuk memberikan pendidikan serta keterampilan kepada kaum perempuan agar mereka lebih mandiri dan berdaya.
Baca Juga
-
Komunitas Rumah Langit: Membuka Ruang Belajar dan Harapan bagi Anak-anak Marginal
-
Subsidi BPJS Kesehatan Terancam, Siapa yang Paling Terdampak?
-
Damkar Dipanggil, Polisi Ditinggal: Mengapa Publik Lebih Percaya Damkar?
-
Film 1 Kakak 7 Ponakan: Realita Peran Ganda dalam Keluarga
-
Misteri Tawar-Menawar: Mengapa Perempuan Selalu Lebih Jago?
-
100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran: Hak Perempuan Masih Jadi Agenda Pinggiran?
Tidak hanya mengajarkan keterampilan dasar seperti membaca dan menulis, sekolah ini juga membekali murid-muridnya dengan keterampilan menjahit dan kerajinan tangan, yang berguna untuk membantu perekonomian keluarga mereka.
Peran dalam Dunia Jurnalistik
Pada tahun yang sama, Roehana juga mendirikan surat kabar "Soenting Melajoe," yang menjadi media bagi perempuan untuk mengekspresikan pemikiran mereka.
Lewat tulisan-tulisannya, ia mengangkat berbagai isu sosial, pendidikan, dan hak-hak perempuan. Keberaniannya dalam menyuarakan hak perempuan membuatnya dikenal sebagai pelopor jurnalisme perempuan di Indonesia.
Artikel-artikelnya banyak membahas kesetaraan gender dan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, yang pada saat itu masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Selain itu, Roehana juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan sering memberikan ceramah serta pelatihan kepada perempuan agar lebih percaya diri dalam berpendapat.
Ia meyakini bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang intelektual dan profesional.
Penghargaan dan Warisan
Dedikasi Roehana dalam dunia jurnalistik dan pendidikan menjadikannya sosok yang dihormati. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Roehana Koeddoes pada tahun 2019.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan serta kontribusinya dalam dunia pers dan pendidikan di Indonesia.
Selain mendapatkan penghargaan dari pemerintah, nama Roehana Koeddoes juga diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti penamaan jalan dan institusi pendidikan.
Warisannya tetap hidup melalui semangat perjuangannya yang menginspirasi banyak perempuan Indonesia hingga saat ini.
(Nurul Lutfia)
Terkini
- Anti Ribet, Ini Solusi Mempersiapkan Buka Puasa dan Sahur yang Sat Set
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?