Dewiku.com - Dalam berbagai situasi darurat, masyarakat Indonesia menunjukkan kecenderungan yang menarik, di mana mereka lebih memilih menghubungi pemadam kebakaran (Damkar) dibandingkan polisi.
Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan tugas utama Damkar dalam menangani kebakaran, tetapi juga mencerminkan dinamika yang lebih kompleks dalam hubungan antara masyarakat dan institusi pelayanan publik.
Nadia, seorang mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), membagikan pengalamannya yang menggambarkan fenomena ini. Saat ponsel temannya terjatuh ke celah sempit di antara dua tembok rumah, mereka memutuskan untuk meminta bantuan Damkar.
"Kami lebih pilih telepon Damkar karena sering lihat di Twitter, TikTok, dan berita kalau mereka benar-benar mau bantu, bahkan untuk hal-hal yang mungkin sepele atau konyol," ujar Nadia.
Keputusan untuk tidak menghubungi polisi didasari pada persepsi bahwa kasus seperti ini bukan ranah kepolisian.
"Walaupun katanya polisi mengayomi masyarakat, tapi kejadian yang berlabel kriminal saja sering diabaikan, apalagi yang seperti ini. Damkar juga pelayannya ramah dan responsif. Mereka langsung minta video posisi HP dan sekitarnya," kata Nadia.
Prof. Ricky Richardi, seorang pengamat sosial, memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang fenomena ini. Menurutnya, perbedaan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kedua institusi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Polisi memiliki interaksi yang lebih intens dengan masyarakat dibandingkan Damkar. Interaksi ini mencakup berbagai situasi seperti penertiban lalu lintas, pengurusan dokumen (SIM, STNK), pengamanan acara dan keramaian, serta penanganan kasus kriminal.
Di sisi lain, Damkar hadir di tengah masyarakat dengan peran yang lebih terfokus sebagai penyelamat dan pemberi solusi. Mereka menangani berbagai situasi darurat seperti kebakaran dan banjir, penyelamatan dalam situasi kritis, serta bantuan teknis untuk masalah sehari-hari.
Baca Juga
-
Tantangan dan Realitas Jurnalis Perempuan di Indonesia: Menyingkap Kesenjangan di Ruang Redaksi
-
Memahami dan Merawat Inner Child: Kunci untuk Menyembuhkan Luka yang Tak Terlihat
-
Working Holiday Visa Australia: Tiket Emas untuk Kerja dan Hidup di Luar Negeri
-
Mom Guilt, Beban Emosional Ibu Bekerja yang Sering Tak Terlihat
-
Film 1 Kakak 7 Ponakan: Realita Peran Ganda dalam Keluarga
-
Galau Sebelum Menikah: Antara Budget Pas-Pasan dan Ekspektasi Orang Tua yang Ketinggian
“Kepercayaan masyarakat terhadap Damkar yang lebih tinggi dibandingkan polisi mencerminkan kompleksitas hubungan antara institusi pelayanan publik dan masyarakat,” tambah Prof. Ricky.
Hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja aktual kedua institusi, tetapi juga oleh persepsi, pengalaman, dan ekspektasi masyarakat.
Prof. Ricky menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan kepercayaan publik tidak hanya dibangun dari tugas utama sebuah institusi, tetapi juga dari bagaimana mereka merespons dan melayani masyarakat dalam berbagai situasi.
Damkar, dengan fokusnya pada penyelamatan dan bantuan darurat, berhasil membangun citra positif yang konsisten, sementara polisi menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam membangun dan mempertahankan kepercayaan masyarakat.
(Nurul Lutfia)
Terkini
- Sebelum Nonton Singles Inferno, Cewek Single Wajib Baca Ini: Ekspektasi vs Realita Dunia Dating
- Kelihatan Kuat, Padahal Udah Capek Banget: 5 Tanda Mental Kamu Lagi Lelah
- Mengapa Generasi Z Tak Lagi Menjadikan Pernikahan Sebagai Prioritas?
- Shabu dan Grill Halal dalam Satu Meja, Pengalaman Makan Hangat untuk Keluarga
- FolagoPro Debut sebagai Promotor Konser, Hadirkan An Evening with Brian McKnight di Jakarta
- Minum Kopi Bisa Bikin Perempuan Terlihat Lebih Awet Muda? Ini Faktanya
- Kenapa Banyak Perempuan Memilih Pria Lebih Dewasa? Ternyata Bukan Cuma Soal Umur
- Bumbu Masak Sachet Kini Masuk Festival Musik, Strategi Unik Dekati Generasi Muda
- Saat AI Ikut Campur Urusan Cinta Gen Z: Banyak Match, Tapi Hati Kok Tetap Sepi?
- Effortless Look untuk Perempuan Aktif, Cantik Tanpa Ribet Seharian